deadlinenews.co/, SAMARINDA – Sebanyak tujuh merek beras premium yang beredar di Samarinda dan Balikpapan terbukti tidak memenuhi standar mutu sebagaimana yang tercantum di label kemasan. Temuan tersebut diungkap oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kalimantan Timur, yang menyebut kondisi ini sangat merugikan konsumen.
“Karena hasil pengawasan menunjukkan produk tersebut bukan beras premium, maka barang tersebut harus ditarik dari peredaran untuk dilakukan penyesuaian,” tegas Kepala DPPKUKM Kaltim, Heni Purwaningsih, saat konferensi pers di Samarinda, Senin (4/8/2025), dikutip dari Antara Kaltim.
Temuan itu berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap 21 sampel beras yang dikumpulkan dari ritel modern, pasar tradisional hingga pedagang kecil. Pengujian dilakukan oleh UPTD Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) DPPKUKM bersama Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim.
Berikut adalah tujuh merek yang dinilai tidak memenuhi kriteria beras premium:
- Bondy
- Ikan Sembilan
- Putri Koki
- Sedap Wangi
- Berlian Batu Mulia
- Raja Lele
- 35 Rahma
Menurut Heni, beberapa merek seperti Bondy dan Berlian Batu Mulia tidak memenuhi parameter butir kepala, butir patah, dan menir. Sementara merek Sedap Wangi dan 35 Rahma lebih parah lagi, karena tak lolos pada lima parameter mutu sekaligus, termasuk butir rusak dan butir kapur.
Meski aman dikonsumsi, beras-beras tersebut secara kualitas hanya setara dengan beras medium, bahkan ada yang lebih rendah. Ini jelas tidak sesuai dengan label “premium” yang tertera dan harga jual yang lebih tinggi.
DPPKUKM Kaltim akan mengawal proses penyesuaian oleh para distributor, dan memastikan tidak terjadi kelangkaan beras di pasaran akibat penarikan produk. Selain mutu, beberapa merek juga ditemukan dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku untuk wilayah Kalimantan, yaitu Rp15.400 per kilogram.
“Kami ingin masyarakat mendapatkan beras dengan mutu yang sesuai harga. Jangan sampai konsumen merasa tertipu karena membayar mahal untuk kualitas yang seharusnya lebih rendah,” ujar Heni.
Artikel Asli baca di antaranews.com
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya
