deadlinenews.co/, SAMARINDA – Program rehabilitasi dan restorasi mangrove Delta Mahakam di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim) tidak hanya fokus memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga membawa manfaat ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat lokal. Upaya ini digagas Universitas Mulawarman (Unmul) bersama mitra strategis, sekaligus menjadi contoh sinergi antara konservasi dan peningkatan kesejahteraan warga.
Dilansir dari Antara, Guru Besar Kehutanan Unmul, Prof Irawan Wijaya Kusuma, menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program ini. “Kunci keberhasilan dari setiap program restorasi adalah ketika masyarakat sekitar merasakan manfaat langsung dan akhirnya menjadi penjaga utama ekosistem tersebut,” ujarnya di Samarinda, Selasa (13/8).
Prof Irawan menyebut, kolaborasi antara Unmul bersama Pertamina, Pertamina Hulu Mahakam, dan Pertamina Foundation ini telah menunjukkan model komprehensif yang mengintegrasikan pemulihan alam dengan peningkatan kualitas hidup warga. “Apa yang kita lihat di Delta Mahakam adalah sebuah model komprehensif yang mengintegrasikan pemulihan alam dengan peningkatan kualitas hidup warga,” tambahnya.
Program restorasi mangrove Delta Mahakam dijalankan dalam tiga tahap sejak 2022 hingga 2024. Pada fase pertama tahun 2022, seluas 52,3 hektare ditanami 700.000 bibit mangrove. Tahun 2023, fase kedua meliputi area 31,5 hektare dengan 589.000 bibit, sementara fase ketiga pada 2024 menargetkan 37,2 hektare dengan 372.000 bibit.
“Seluruhnya lebih dari 1,6 juta bibit mangrove ditanam di lahan seluas 121 hektare,” jelas Prof Irawan.
Hutan mangrove Delta Mahakam menjadi habitat penting bagi satwa dilindungi, termasuk bekantan (Nasalis larvatus) yang berstatus terancam punah, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), hingga puluhan spesies burung seperti elang ikan kepala kelabu (Ichthyophaga ichthyaetus) dan pecuk ular (Anhinga melanogaster).
“Dengan pulihnya hutan mangrove, rantai makanan dan siklus hidup mereka kembali seimbang,” ujar Prof Irawan.
Selain konservasi, aspek pemberdayaan masyarakat menjadi pilar utama keberlanjutan program ini. Warga setempat terlibat langsung dalam penanaman, pengelolaan persemaian desa, hingga pelatihan budidaya perikanan berbasis smart silvofishery yang ramah lingkungan.
Masyarakat juga dilatih mengolah produk turunan mangrove bernilai ekonomi, seperti nira nipah untuk persiapan produksi etanol. Tidak hanya itu, fasilitas penunjang kehidupan warga turut dibangun, mulai dari instalasi pemanenan air hujan, hidroponik untuk ketahanan pangan, hingga lampu jalan tenaga surya yang hemat energi dan ramah lingkungan.
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya












