deadlinenews.co/, TENGGARONG – Bupati Kukar Aulia Rahman Basri berencana membangun sekolah berasrama (boarding school) di 20 kecamatan se-Kukar, Sistem pendidikan ini dinilai lebih bagus.
“Ekosistem pendidikan sekolah berasrama lebih bagus, saya ingin ada sekolah berasrama tiap kecamatan,” sebut Bupati Aulia, belum lama ini.
Dia menyebut, tidak harus membangun sekolah yang baru. Boarding school bisa diterapkan langsung pada sekolah yang sudah ada saat ini. Tinggal mengubah sistemnya saja. Alasan dia, sekolah berasrama membentuk siswa lebih berdisiplin, punya karakter, dan kualitas akademiknya terjamin.
Dokter lulusan Unhas Makassar ini tidak menampik bahwa rencana membangun sekolah berasrama memerlukan biaya yang besar. Selain itu, operasional gedung hingga makan minum bergizi bagi siswa, serta sumber daya manusia (SDM) pengelola yang unggul juga harus dipikirkan.
Namun, Bupati Aulia mengaku punya cara mewujudkannya. “Kita arahkan bantu wujudkan sekolah berasrama melalui CSR perusahaan tiap kecamatan. Ini bagian dari investasi pendidikan SDM,” jelasnya.
Menurut Aulia, penyaluran CSR perusahaan cenderung bersifat sementara dan terpisah-pisah, saat ini. Lebih banyak membantu kelompok tertentu saja. Jika ada program jangka panjang, maka pasti lebih bagus lagi.
Dimintai komentarnya, anggota DPRD Kukar fraksi Gerindra, Sopan Sopian menyarankan , boarding school jangan dibangun per kecamatan. Alangkah baiknya sistem zonasi. “Contoh, zona Hulu, Muara Muntai, Muara Wis dan Kota Bangun dipusatkan di Kota Bangun, sedangkan Kenohan, Kembang Janggut dan Tabang. Dipusatkan di Kembang Janggut,” ucapnya.
Dirinya khawatir, jika ada sekolah berasrama per kecamatan, tidak begitu ramai peminat. Apabila dipusatkan pada smasing-masing zona, maka proses seleksi masuk akan berimbang, persaingan bisa lebih sehat. Selain itu, menghindari pemborosan anggaran.
“Karena ada budaya persaingan antar kecamatan, jadi pelajar perwakilan kecamatan mempersiapkan diri untuk masuk sekolah berkualitas dan berasrama,” harapnya.
Sekolah Berasrama Lebih Bermutu?
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unikarta Tenggarong, Suid Saidi angkat bicara soal boarding school. Apakah sekolah berasrama lebih bermutu dan ekosistem pendidikannya lebih bagus ? “Tidak juga. Tergantung pengelolaannya. Kalau pengelolaannya bagus dan komitmen, kualitas pendidikan pasti terbentuk,” ucapnya.
Suid menyebut, ada sekolah berasrama tidak berhasil membentuk karakter siswa. Justru sebaliknya, ada sekolah nonasrama berhasil. “Berasrama tapi sistemnya bebas, ya pasti berantakan juga ekosistem pendidikannya,” ucapnya.
Suid menyebut, sistem pendidikan negara sedang tidak bagus karena tidak mengajarkan budaya kompetensi dan kompetisi. Meskipun siwa tidak berprestasi, tetap saja diluluskan. Akibatnya, siswa rata-rata saat ini malas belajar karena punya anggapan nilai jelek juga tetap lulus.
“Selain itu, tidak ada penghargaan bagi siswa yang menonjol akademiknya, apakah langsung dinaikan tingkatannya atau akselerasi karena punya prestasi luar biasa. Penghargaan kepada anak pintar itu biasa di negara maju,” pungkasnya.
Kepala SMAN 3 Tenggarong Winarno menyebut, sekolahnya berasrama dengan sistem aturan ketat. Siswa wajib berasrama agar fokus sekolah. Siswa mengikuti semua kegiatan akademik dan keagamaan. “Siswa kami tidak boleh pegang gawai. Kami khawatir siswa tidak fokus belajar,” jelasnya.(Andri)