deadlinenews.co/, JAKARTA – Sejumlah negara di berbagai belahan dunia tengah diguncang aksi unjuk rasa besar-besaran. Mulai dari Asia, Eropa, hingga Australia, dilansir dari CNN Indonesia, gelombang protes masyarakat marak terjadi dengan berbagai latar belakang isu.
1. Indonesia
Di Indonesia, aksi demonstrasi berlangsung sejak akhir Agustus hingga awal September 2025. Kericuhan yang mewarnai protes menelan korban jiwa setidaknya 10 orang di sejumlah kota. Aksi tersebut dipicu oleh ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah dan berujung pada bentrokan dengan aparat.
2. Nepal
Nepal menjadi salah satu negara dengan demo paling besar. Ribuan anak muda generasi Z turun ke jalan pada 8 September memprotes praktik korupsi pemerintahan mantan Perdana Menteri Khadga Prasad Sharma Oli.
Amarah publik semakin meluas setelah pemerintah melarang sejumlah media sosial sejak 4 September. Kebijakan tersebut dianggap mengekang kebebasan berpendapat. Protes berujung ricuh dengan pembakaran dan penjarahan, menewaskan 72 orang. Tekanan massa akhirnya membuat Oli dan sejumlah menterinya mengundurkan diri. Posisi perdana menteri sementara kini diisi mantan Ketua Mahkamah Agung, Sushila Karki.
3. Australia
Di Australia, ribuan warga menggelar demonstrasi sporadis di kota-kota besar seperti Melbourne, Sydney, Brisbane, Adelaide, dan Perth. Aksi ini diinisiasi berbagai kelompok, mulai dari Free Palestine Coalition, Rally Against Racism, hingga Australia Unites Against Government Corruption.
Isu yang diangkat beragam, mulai dari protes biaya hidup tinggi, korupsi, anti-rasisme, hingga solidaritas untuk Palestina. Beberapa kelompok bahkan menyuarakan dukungan terhadap tokoh konservatif AS Charlie Kirk yang tewas ditembak di Utah Valley University pada 10 September. Di sejumlah titik, aksi memanas hingga aparat menggunakan semprotan merica untuk membubarkan massa.
4. Timor Leste
Di Dili, Timor Leste, ribuan mahasiswa memprotes rencana pemerintah membeli mobil baru untuk 65 anggota parlemen. Aksi yang awalnya damai berubah ricuh setelah polisi menembakkan gas air mata akibat sejumlah demonstran melempar batu dan merusak kendaraan. Empat orang dilaporkan terluka. Protes ini membuat beberapa partai politik mempertimbangkan menarik dukungan terhadap rencana pengadaan mobil.
5. Filipina
Sejak awal September, unjuk rasa juga merebak di Filipina. Massa memprotes dugaan korupsi terkait miliaran peso dana proyek pengendalian banjir. Meski skalanya masih kecil dan berlangsung damai, aksi besar direncanakan digelar pada 21 September di Rizal Park, bertepatan dengan peringatan darurat militer yang dideklarasikan Presiden Ferdinand Marcos Sr.
Militer telah disiagakan membantu kepolisian. Presiden Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. menyatakan mendukung protes terhadap dugaan korupsi, namun meminta aksi tetap kondusif.
6. Inggris
Di London, lebih dari 110.000 orang yang tergabung dalam kelompok sayap kanan Unite the Kingdom melakukan aksi anti-imigrasi. Demonstrasi dipimpin aktivis Tommy Robinson dan berakhir ricuh setelah polisi bentrok dengan massa. Sedikitnya 26 aparat terluka, sementara 25 orang ditangkap.
7. Prancis
Gelombang protes besar juga melanda Prancis pada 10 September. Sekitar 175.000 orang memblokir jalan dan pompa bensin sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
Perdana Menteri Francois Bayrou sebelumnya mengumumkan pemangkasan anggaran lebih dari 50 miliar euro, termasuk pembekuan dana pensiun pada 2026, pemotongan belanja kesehatan, hingga penghapusan dua hari libur nasional. Aksi bertajuk Block Everything ini dikoordinasikan melalui media sosial, melibatkan kelompok kanan maupun kiri. Pemerintah mengerahkan 80.000 polisi, ratusan demonstran ditangkap, dan gas air mata ditembakkan untuk membubarkan massa.
8. Turki
Di Turki, puluhan ribu orang turun ke jalan di Ankara pada 14 September. Mereka menuntut kebebasan politik setelah pemimpin oposisi Partai Rakyat Republik (CHP), Özgür Özel, terancam digulingkan lewat proses pengadilan.
Sejumlah tokoh oposisi, termasuk Wali Kota Istanbul Ekrem İmamoğlu, telah ditangkap dengan tuduhan korupsi hingga terorisme. Özel sendiri ikut memimpin aksi, mendesak Presiden Recep Tayyip Erdogan mundur karena dianggap merusak demokrasi.
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya


