deadlinenews.co/, SAMARINDA – Dewan Eksekutif Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (DEMA UINSI) menggelar kegiatan sosialisasi Antihoaks dan Literasi Digital. Kegitan ini berlangsung di Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Kamis 10 Oktober 2025.
Sosialisasi ini membahas terkait fenomena “post-truth di tengah maraknya industri hoaks.
Kepala Diskominfo Kaltim Muhammad Faisal, menegaskan pentingnya membangun kesadaran digital yang cerdas, beretika, dan kritis. Menurutnya, pemerintah bukan entitas yang antikritik, melainkan mitra strategis bagi publik dalam keterbukaan informasi.
Ia menilai banyak masyarakat yang masih menyamakan hoaks dengan sekadar berita salah. Padahal, hoaks adalah produk informasi yang sengaja disebarkan dengan tujuan memanipulasi persepsi terhadap publik. “Berita palsu yang sengaja disebarkan adalah hoaks. Sekarang sudah jadi industri. Ada hoaks untuk menaikkan atau menjatuhkan seseorang dan ada yang siap membayar untuk itu,” tegasnya.
Lebih lanjut, Faisal mengatakan demokrasi kini berada di ambang batas, di mana sebagian masyarakat justru dengan mudah menyebarkan kabar tanpa memverifikasi terlebih dahulu kebenarannya.
Hal lain disampaikan Faisal mengenai percepatan transformasi digital di Kaltim sebagai provinsi penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). “Literasi digital harus berjalan dengan baik beriringan dengan percepatan infrastruktur agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna pasif teknologi,” imbuhnya.
Sekarang adalah era percepatan transformasi digital. “IKN tidak mungkin digitalnya tidak bagus, maka Kaltim juga harus siap ke depannya. Internet cepat tidak akan berarti kalau masyarakatnya hanya pakai hal sia-sia seperti game online atau judi,” jelasnya.
Faisal juga menyampaikan keberhasilan dalam transformasi digital harus diiringi dengan empat pilar literasi digital. keamanan (security), Kecakapan (skill), budaya (culture), dan etika (ethic). “Etika digital sangat penting. Digitalisasi ibarat seperti silet, satu sisi bermanfaat, sisi lain berbahaya,” ungkapnya.
Dia mengajak masyarakat dan mahasiswa menjadi garda terdepan dalam melawan disinformasi. Pentingnya prinsip saring sebelum sharing. Terutama informasi yang diterima,melalui grup WhatsApp yang disebutnya sebagai medium penyebaran hoaks paling masif di Indonesia. “Tingkatkan kemampuan berpikir secara kritis, dan berikan edukasi kepada lingkungan terdekat kita, dalam bahayanya disinformasi,” pungkasnya. (msd)
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya












