Dinkes Kaltim Bantah Puluhan Kasus HIV di Kutim

deadlinenews.co/, SANGATTA – Dinas Kesehatan Kalimantan Timur memastikan bahwa informasi mengenai ratusan penderita HIV Kutai Timur tidak sesuai dengan data resmi pemerintah. Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin menegaskan, jumlah penderita HIV Kutai Timur yang tercatat dalam sistem pelaporan pemerintah hingga saat ini hanya delapan orang.

Dilansir dari RRI Kaltim, Jaya Mualimin menjelaskan bahwa data tersebut berasal dari sistem pelaporan resmi yang menjadi rujukan utama pemerintah dalam menangani kasus HIV Kutai Timur dan wilayah lainnya di Kalimantan Timur. Ia menekankan bahwa angka ini jauh berbeda dari isu yang beredar luas di media sosial.

“Itu salah, di Kutim hanya delapan yang terlaporkan kemarin. Jadi saat kami membaca informasi di media sosial, saya langsung melakukan pengecekan, sedikit saja dan tidak sampai ratusan,” ujar Jaya Mualimin.

Menurut Jaya, isu yang menyebutkan ratusan kasus HIV Kutai Timur sempat mencatut laporan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kutai Timur dengan klaim 422 orang terindikasi HIV/AIDS. Bahkan, sebagian informasi menyebutkan keterkaitan dengan kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL). Namun, data tersebut belum dapat dikategorikan sebagai kasus terkonfirmasi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltim, Fitnawati, menegaskan bahwa setiap informasi dugaan kasus HIV Kutai Timur harus melalui proses penelusuran dan verifikasi lanjutan. Ia menyebutkan bahwa tidak semua temuan awal bisa langsung dimasukkan sebagai data resmi tanpa pemeriksaan medis yang sah.

Meski jumlah HIV Kutai Timur tergolong rendah dibanding daerah lain, Jaya Mualimin mengakui bahwa secara umum penyebaran HIV memang lebih banyak ditemukan pada kelompok berisiko tertentu. Salah satu kelompok yang menjadi perhatian adalah komunitas LSL yang masuk dalam sasaran program pencegahan dan pengendalian penyakit.

Berdasarkan catatan Dinkes Kaltim, sepanjang 2025 terdapat 1.018 kasus HIV positif di seluruh Kalimantan Timur. Sebaran tertinggi berada di Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara. Sementara itu, HIV Kutai Timur tidak termasuk wilayah dengan angka kasus tinggi seperti yang ramai diperbincangkan.

Untuk menekan potensi penularan HIV Kutai Timur, Dinkes Kaltim terus mengintensifkan upaya deteksi dini melalui program skrining. Pemeriksaan ini menyasar komunitas berisiko dan lokasi yang dinilai rawan penularan agar kasus dapat diketahui sejak dini.

Selain skrining komunitas, pengawasan juga dilakukan di kawasan lokalisasi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pengendalian HIV Kutai Timur dan daerah lain berjalan efektif serta tepat sasaran. Pemerintah juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat terkait pencegahan HIV.

Jaya Mualimin menegaskan bahwa penderita HIV yang rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) dapat menekan jumlah virus dalam tubuh hingga ke tingkat yang tidak menularkan. Hal ini menjadi kunci dalam mengendalikan HIV Kutai Timur dan mencegah peningkatan kasus baru.

Sebaliknya, apabila HIV tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi AIDS dan memicu berbagai penyakit penyerta yang serius. Oleh karena itu, Dinkes Kaltim mengimbau masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan dan segera menjalani pengobatan jika terdeteksi positif.

Dalam jangka panjang, pemerintah juga menaruh harapan besar pada pengembangan vaksin HIV. Jaya menyebutkan bahwa riset vaksin masih terus berjalan dan diharapkan dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap penyebaran HIV Kutai Timur dan wilayah lainnya di Indonesia.

“Sekarang sedang dikembangkan vaksinnya. Mudah-mudahan dua tahun lagi sudah bisa ada,” ujar Jaya Mualimin.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp deadlinenews.co/

Gabung