deadlinenews.co/, SAMARINDA – Penurunan harga batu bara global, ekspor Kaltim, kinerja perdagangan, data BPS Kaltim, serta tren transisi energi menjadi isu besar yang memengaruhi ekonomi daerah sepanjang Oktober 2025. Ketergantungan Kalimantan Timur pada komoditas energi membuat tekanan harga internasional berdampak langsung pada performa ekspor wilayah tersebut.
Dilansir dari RRI Kaltim, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat harga batu bara mengalami koreksi tajam bila dibandingkan periode yang sama pada Oktober tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat harga batu bara global menjadi fokus utama dalam evaluasi perdagangan luar negeri 2025.
Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menyebut penurunan tajam harga KBA Indonesia dipengaruhi kelebihan pasokan di pasar internasional. “Penurunan harga batu bara didorong kelebihan pasokan global, sementara permintaan dari negara-negara konsumen utama belum membaik. Ini menyebabkan tekanan pada daya saing komoditas batu bara kita,” ujar Yusniar di Kantor BPS Kaltim, Senin (1/12/2025).
Kondisi stok batu bara dunia yang masih tinggi membuat banyak negara mengurangi impor. Selain itu, percepatan transisi energi di berbagai kawasan turut menjadi faktor yang menekan permintaan dan memperdalam dampak harga batu bara global yang sedang menurun. “Transisi energi global menjadi faktor jangka panjang yang harus diantisipasi. Permintaan batu bara berangsur menurun karena banyak negara mulai beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan,” lanjut Yusniar.
Dari sisi mitra dagang, situasi tidak sepenuhnya seragam. Tiongkok, sebagai konsumen terbesar batu bara Indonesia, mencatat penurunan impor hingga 11 persen selama Januari–Oktober 2025. Melemahnya aktivitas industri dan tingginya cadangan energi di negara tersebut membuat tekanan terhadap ekspor Kaltim semakin besar, seiring jatuhnya harga batu bara global tahun ini.
Sebaliknya, Jepang menunjukkan tren positif. Negeri Sakura meningkatkan impor batu bara Indonesia sebesar 6,69 persen pada Oktober 2025 dan naik 3,4 persen dibanding bulan sebelumnya. Lonjakan ini diperkirakan terkait kebutuhan sektor pembangkit listrik menjelang musim dingin, sehingga memberi sedikit ruang bagi stabilitas ekspor Kaltim.
BPS menilai dinamika pasar internasional menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah untuk mempercepat diversifikasi ekonomi. “Kaltim sangat bergantung pada ekspor komoditas energi. Dinamika pasar internasional seperti ini menjadi pengingat agar daerah terus melakukan diversifikasi ekonomi dan mempersiapkan sektor lain yang lebih berkelanjutan,” tegas Yusniar.