deadlinenews.co/, JAKARTA – Komitmen Indonesia China multilateralisme, KAA Bandung, Dasasila Bandung, BRICS, dan kerja sama global kembali disorot oleh para pakar hubungan internasional.
Pengamat hubungan internasional menilai Indonesia dan China memiliki komitmen kuat dalam memperkuat multilateralisme di tengah merosotnya semangat kerja sama global. Sejak KAA Bandung, kedua negara dinilai konsisten mendorong tata kelola dunia yang lebih adil dan setara.
Menurut laporan yang dilansir Xinhua, akademisi UMJ Asep Setiawan menegaskan bahwa Dasasila Bandung menjadi fondasi moral yang hingga kini memandu kerja sama Indonesia dan China dalam mewujudkan tatanan global yang inklusif. Ia menyebut sejak era tersebut kedua negara aktif dalam berbagai platform multilateral, mulai dari ASEAN–China Summit hingga BRICS dan forum Global South.
Asep menilai komitmen Indonesia China multilateralisme semakin penting di tengah menguatnya unilateralisme dan proteksionisme perdagangan dunia. Ia menyoroti BRICS sebagai alternatif tata kelola global yang tidak lagi terpusat pada mekanisme Barat. Dalam konteks ini, Yuan China bahkan dinilai berpotensi menjadi mata uang global alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa munculnya berbagai alternatif global tersebut merupakan bagian dari upaya kolektif membangun struktur internasional yang lebih seimbang, sejalan dengan semangat Dasasila Bandung yang mempromosikan keadilan dan persamaan.
Pandangan serupa disampaikan Harryanto Aryodiguno dari President University. Ia menyebut bahwa nilai-nilai antikolonialisme dan perjuangan kemerdekaan yang digaungkan dalam KAA masih relevan hingga kini. Hal itu tercermin dari sikap Indonesia dan China yang terus konsisten mendorong pengakuan Palestina melalui solusi dua negara di berbagai forum internasional.