DEADLINENEWS.CO – Rendahnya pemahaman informasi dinilai memicu banyaknya komentar yang tidak berdasar di media sosial. Dilansir dari RRI, maraknya komentar negatif di media sosial disebut tidak terlepas dari rendahnya literasi digital dan lemahnya etika bermedia di kalangan masyarakat.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur, Sari Mulyani, menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan cara warganet memanfaatkan kebebasan berekspresi di dunia maya.
“Saya juga nanyakan hal itu. Kenapa sih kita cenderung sekali berkomentar jahat? Ya, satu tadi karena kita merasa anonim dan kita merasa di ruang yang aman untuk mengekspresikan. Tapi kalau dilihat dari etika digital, atau etika media sosial, sebenarnya masyarakat kita tuh kurang suka membaca di situ secara penuh,” ujarnya.
Ia menilai, rendahnya literasi digital membuat banyak pengguna hanya membaca judul tanpa memahami isi informasi secara utuh. Hal ini memicu respons emosional yang kerap tidak sesuai dengan konteks sebenarnya.
“Jadi kadang-kadang kita baca dari judul aja. Padahal gitu loh. Padahal kalau kadang-kadang wartawan ini kan pintar ya sekarang keren banget dia bisa memancing-mancing kita hanya dengan di judul. Nah, kurang enaknya, kurang baiknya sisi buruknya ya kita terpancing emosi. Padahal kita enggak baca utuh,” katanya.
Akibatnya, warganet cenderung cepat mengambil kesimpulan atau memberikan penilaian tanpa dasar informasi yang lengkap.
“Dan itu terjadi yang namanya kalau saya ambil catatan judgement. Kita terlalu cepat menjudge sesuatu karena di atas wah enggak baik enggak baik berdasarkan judul aja,” katanya.
Sari menegaskan, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi fenomena ini, yakni rendahnya etika dalam menggunakan media sosial dan minimnya literasi terhadap informasi digital.
“Jadi ada dua konsep sebetulnya. Satu etika kita di media sosial masih kurang. Yang kedua, literasi kita terhadap media juga rendah. Kita daripada menguang waktu 2 sampai 3 menit membaca full berita, kita mengambil yang 2 sampai 10 detik untuk membaca judulnya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa fenomena serupa tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara dengan tingkat penggunaan internet tinggi, seperti Korea Selatan yang dikenal memiliki netizen dengan ekspresi tajam.
“Tapi sebetulnya ini enggak fenomena di Indonesia aja. Saya kasih contoh Korea Selatan itu netizennya terkenal sangat tajam dari ekspresinya,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut tingginya penetrasi internet di Indonesia turut memengaruhi dinamika interaksi di media sosial.
“Kalau di Indonesia kan kita ngambil dari data kementerian kita tuh 82% tuh sudah melek. Jadi 8 orang dari 10 orang itu sudah paham, sudah bisa menggunakan gadget, sudah ngerti browsing-browsing, media sosial dan yang lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, kemudahan akses informasi memang membawa manfaat, namun juga menjadi tantangan karena belum diimbangi kesiapan masyarakat dalam menyaring informasi.
“Ada hal baik. Hal baiknya kita mendapatkan informasi dengan cepat tapi hal buruknya ini kayaknya kita masih belum siap,” katanya.
Ia juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang enggan membaca secara mendalam, sehingga memperburuk kualitas interaksi di ruang digital.
“Banyak kok juga influencer tuh ngomong kita nih di Indonesia itu kadang-kadang malas enggan untuk membaca lebih jauh gitu. Dan etika kita di media sosial di internet itu jadi netizen itu kurang ya karena mungkin ngerasa aman tidak ada yang lihat,” ujarnya.
Sari mengingatkan bahwa perilaku tersebut dapat menimbulkan dampak negatif yang lebih luas, termasuk menciptakan viralitas tanpa dasar yang jelas.
“Tapi tahu kan teman-teman itu berdampak buruk, berdampak buruk. Akhirnya kita tuh cuma jadi kayak yang bikin ramai satu aja kita menciptakan viral baru tanpa tahu ini apa,” katanya.
