deadlinenews.co/, SAMARINDA – Kerajinan manik-manik Dayak Samarinda kembali mencuri perhatian publik pada perayaan Dahau, acara budaya tahunan yang merayakan seni dan tradisi masyarakat Dayak. Dalam gelaran tersebut, karya para pengrajin lokal tampil memukau, termasuk produk dari Dona pengrajin asal Kampung Pampang, Samarinda Utara.
Dilansir dari RRI Kaltim, Dona telah menekuni kerajinan manik-manik Dayak Samarinda selama satu dekade. Ia mengaku memulai usahanya secara otodidak, membuat gantungan kunci dan kalung. Seiring bertambahnya peminat, ia lalu menggandeng tetangga dan teman-temannya untuk memproduksi lebih banyak karya. “Awalnya saya belajar sendiri, lama-lama banyak yang tertarik, jadi kami buat bersama. Produk paling banyak dicari itu tas anjat dan topi hias khas Dayak,” ujarnya.
Setiap karya manik-manik Dayak Samarinda garapan Dona tidak hanya berupa aksesoris, tetapi memiliki makna budaya yang kuat. Motif Dayak dan perpaduan warna cerah menjadi ciri khas utama yang menggambarkan semangat masyarakat Kalimantan Timur. Produk yang ia hasilkan meliputi busana adat Dayak, seraung, tas anjat bermanik, kalung, serta gantungan kunci yang menjadi favorit pengunjung.
Permintaan produk manik-manik Dayak Samarinda biasanya meningkat ketika ada acara pemerintahan, festival budaya, atau pameran UMKM. Pemerintah daerah turut memberikan dukungan dengan memfasilitasi pengrajin agar bisa mengikuti beragam event besar di tingkat lokal maupun nasional, sehingga peluang pemasaran menjadi lebih luas.
Dalam perayaan Dahau tahun ini, karya manik-manik Dayak Samarinda buatan Dona dipamerkan di bawah Lamin Bahau—area pusat kegiatan budaya Dayak. Stan yang menampilkan kerajinan tersebut menjadi salah satu spot yang paling banyak dikunjungi. Dona berharap lebih banyak masyarakat mencintai produk lokal dan ikut menjaga keberlangsungan seni tradisi Dayak melalui penggunaan karya asli pengrajin.
Baginya, setiap event seperti Dahau bukan hanya kesempatan untuk mempromosikan manik-manik Dayak Samarinda, tetapi juga wujud nyata kontribusinya dalam merawat identitas budaya Kalimantan Timur agar tetap dikenal generasi muda.












