deadlinenews.co/, TENGGARONG – Keberadaan struktur sosial Suku Kutai tidak terlepas dari sejarah panjang Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang pernah berjaya di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam. Sistem monarki tersebut membentuk stratifikasi sosial yang mengatur posisi dan peran setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat.
Dilansir dari RRI, lapisan tertinggi dalam struktur sosial Suku Kutai ditempati oleh golongan bangsawan. Status kebangsawanan ini ditandai dengan penggunaan gelar tertentu, seperti Aji, Aji Bambang, hingga gelar tertinggi Aji Sultan. Gelar-gelar tersebut bukan sekadar simbol kehormatan, tetapi juga penanda kedudukan sosial dalam adat Kutai.
Di bawah golongan bangsawan, struktur sosial Suku Kutai mengenal kelompok Kawulo atau rakyat merdeka. Kelompok ini terdiri atas petani, nelayan, pedagang, serta masyarakat umum yang memiliki hak dan kewajiban penuh dalam kehidupan sosial dan pemerintahan kesultanan pada masanya.
Seiring masuknya Islam ke wilayah Kutai, tokoh agama dan tetua adat menempati posisi terhormat dalam lapisan rakyat merdeka. Dalam struktur sosial Suku Kutai, alim ulama memiliki peran strategis sebagai pemberi nasihat moral, penengah persoalan masyarakat, serta penjaga nilai-nilai keislaman yang berkembang di sepanjang Sungai Mahakam.
Pada masa lampau, struktur sosial Suku Kutai juga mengenal keberadaan golongan hamba sahaya. Namun, sistem tersebut telah dihapus sepenuhnya. Penghapusan ini berlangsung seiring kuatnya pengaruh ajaran Islam serta penerapan sistem pemerintahan modern yang menjunjung tinggi asas kesetaraan dan kemanusiaan.
Dari sisi kekerabatan, struktur sosial Suku Kutai menganut sistem bilateral atau parental. Garis keturunan ditarik dari pihak ayah maupun ibu, sehingga menciptakan keseimbangan dalam penentuan silsilah keluarga dan pembagian warisan. Sistem ini dinilai mampu menjaga keadilan dalam keluarga besar masyarakat Kutai.
Mobilitas sosial dalam struktur sosial Suku Kutai juga dimungkinkan melalui ikatan perkawinan. Rakyat biasa yang menikah dengan kalangan bangsawan dapat memperoleh gelar kehormatan tertentu. Pemberian gelar ini menjadi bentuk pengakuan adat atas perubahan status sosial dalam masyarakat.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mencatat bahwa sejumlah tradisi khusus masih dijalankan oleh kalangan bangsawan dalam struktur sosial Suku Kutai. Salah satunya adalah ritual Mendudus atau prosesi penyucian, yang bertujuan menjaga marwah keluarga bangsawan sekaligus melestarikan identitas budaya Kutai.
Hingga saat ini, struktur sosial Suku Kutai tetap dijaga melalui lembaga adat resmi yang bermitra dengan pemerintah daerah. Kepala Adat memegang peranan penting dalam menyelesaikan sengketa antarwarga dengan berlandaskan hukum adat yang masih diakui dan dihormati masyarakat.