deadlinenews.co/, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) menyatakan kesiapannya membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat peran daerah dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.
“Asasnya bukan hanya menjadi penerima manfaat pasif, tetapi ikut berperan aktif dalam bisnis migas melalui skema yang memberi nilai tambah langsung bagi daerah,” ujar Asisten I Pemkab Kutim, Sudirman Latief, dilansir dari Antara Kaltim, Kamis (30/10/2025).
Pernyataan tersebut disampaikan Sudirman usai menghadiri Upstream Oil and Gas Executive Meeting Wilayah Kalimantan dan Sulawesi di Yogyakarta. Ia menjelaskan, salah satu isu utama yang dibahas adalah peluang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui skema Participating Interest (PI) 10 persen.
Menurutnya, skema ini membuka ruang bagi pemerintah daerah untuk terlibat langsung dalam kegiatan hulu dan hilir migas, tidak lagi sekadar menunggu dana bagi hasil sebagaimana pola lama.
Selain memperluas kemitraan, Pemkab Kutim juga berupaya mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam pengelolaan sumur tua dan sumur rakyat. Langkah ini dinilai tidak hanya menambah PAD, tetapi juga mendukung target nasional produksi minyak 1 juta barel per hari pada 2030.
Sudirman menambahkan, keterlibatan koperasi lokal menjadi bagian penting dalam strategi ekonomi energi daerah. Koperasi dinilai mampu memperkuat fondasi ekonomi masyarakat di sekitar wilayah penghasil migas.
“Kami melihat koperasi punya potensi besar untuk ikut dalam bisnis minyak dan gas bumi, terutama di bidang jasa penunjang seperti transportasi, penyediaan bahan, hingga perawatan fasilitas,” ujarnya.
Pemkab Kutim, lanjut Sudirman, berkomitmen menciptakan iklim investasi yang ramah dan kompetitif melalui pemberian insentif serta kemudahan perizinan bagi pelaku usaha di sektor energi dan sumber daya alam.
“Kutim sangat terbuka bagi investor yang ingin membangun kerja sama. Kami memberikan kemudahan dalam perizinan, penyederhanaan prosedur, dan dukungan regulasi agar proses investasi berjalan cepat dan efisien,” katanya.
Ia menegaskan, sinergi antara pemerintah daerah, BUMD, dan koperasi akan menjadi motor penggerak kemandirian energi di Indonesia Timur, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi lokal.
“Sinergi ini diharapkan tak hanya menghidupkan ekonomi lokal, tetapi juga memperkuat posisi daerah dalam industri energi nasional,” tutur Sudirman.