‎Perjuangan Manajemen PT Tunggang Parangan, Buktikan Kontribusi Nyata untuk Pemkab Kukar

deadlinenews.co/, TENGGARONG – Sosok Awang Mohammad Luthfi dilantik sebagai Direktur Utama PT Tunggang Parangan(Perseroda) oleh Bupati Edi Damansyah pada 27 Desember 2021. Untuk masa jabatan periode 2021-2026.

‎Luthfi bercerita, PT Tunggang Parangan berstatus Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau perusda berdasarkan Perda Nomor 14 tahun 2003. Dalam kurun waktu yang cukup panjang, berubah status menjadi Perseroda melalui Perda Kukar Nomor 10/2020 tentang perubahan bentuk menjadi PT.

‎Sebelum dipegang Awang Luthfi, Perseroda ini dikendalikan Dirut sebelumnya Adenani, Direktur operasional Suratman Mustakim dan Direktur umum Driyono. Mengajukan penyertaan modal sebesar Rp 15 miliar. Dikabulkan Pemda Rp 10 miliar.

‎”Sejak saya pimpin, tidak pernah menerima tambahan penyertaan modal dari Pemda,” tukas dosen di program Magister Administrasi Publik (MAP) Unikarta ini, Selasa 14 Oktober 2025.

‎Luthfi mengenang, pada masa awal memulai bisnis Tunggang Parangan, manajemen sudah mendapatkan ujian berat. Nilai utang perusahaan mencapai Rp 31 miliar. Nilai sebesar itu merupakan akumulasi kerugian perusahaan selama berdiri, plus utang gaji dan pesangon karyawan serta utang pajak.

‎‎Belum lagi, mendekati Mei 2022, Luthfi harus memikirkan membayar gaji dan Tunjangan Hari Raya (THR) karyawan. “Nilainya lumayan besar, sampai sekarang masih ada yang masih proses penyelesaian,” tuturnya.

‎Bisnis utama Tunggang Parangan adalah layanan pandu tunda kapal di bawah jembatan Kukar sejak akhir 2019. Awalnya 100-200 kapal saja. Saat ini berkembang pesat dengan kisaran 1.000-1.200 kapal per bulan.

‎”Itu pun tidak menentu, belum tentu aktif tergantung kapal lewat. Bahkan di periode 2021-2022 pernah alami nol layanan. Berarti tidak ada pemasukan perusahaan,” jelasnya.

‎Bukan hanya layanan di Jembatan Tenggarong. Tunggang Parangan sudah lakukan pengembangan usaha di bawah jembatan Martadipura, Kota Bangun. Sebentar lagi bakal merambah bisnis perairan Muara Muntai.

‎Bicara keuntungan perusahaan, tidak juga seperti yang banyak orang bayangkan. Pendapatan berbagi dengan Pelindo sebesar 20 persen, sedangkan sisa yang 80 persen bagian dari Tunggang Parangan. Itu pun berbagi lagi dengan mitra kerja.

‎”Faktanya bisnis pandu tunda kapal juga butuh high cost operation atau biaya tinggi. Kisaran keuntungan murni yang diterima perusahaan sebesar 20 persen,” jelasnya.

‎Disinggung kontribusi terhadap PAD, kontribusi perusahaan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Setoran pada 2022 hanya Rp 98 juta, dan akhir tahun 2025 akan menyetor sekitar Rp 800 juta atas laba 2024 yang telah diaudit.

Lelah perjuangan Luthfi bersama tim diganjar dengan berbagai penghargaan dan status positif. ‎
‎”Sudah terbukti lakukan pemulihan masalah keuangan, serta telah melunasi kewajiban. Dan dilakukan audit oleh BPK, BPKP, Auditor Pajak, serta auditor publik, kami mendapat predikat perusda Sehat dan Bintang 2 Plus,” tegasnya.(Andri)

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya

Exit mobile version