deadlinenews.co/, TENGGARONG – Kasus penyimpangan LGBT di Kaltim banyak terjadi. Namun, tidak semuanya terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes). Hal itu diungkapkan terapis dari Griya Sehat Hypnoterapi Samarinda.
“Kasus LGBT terjadi bukan hanya di Ponpes, di sekolah umum juga terjadi, cuma tidak viral seperti yang terjadi di Ponpes Tenggarong Seberang,” terang Linda Violand, saat pembahasan maraknya LGBT di DPRD Kukar, Senin 15 September 2025.
LGBT diyakini Linda semakin berkembang dengan hadirnya komunitas LGBT di berbagai kota dan kabupaten di Kaltim. Secara umum kasus LGBT bukan hanya terjadi di sekolah saja. “Di tempat kerja dan lingkungan rumah juga terjadi kasusnya,” tegasnya.
Dari segi umu, kasus LGBT yang ditangani dirinya mulai umur 14 tahun sedangkan yang paling tua umur 40 tahun ke atas. Penanganan kasus LGBT tergantung tingkatannya, baik ringan sedang atau berat.
“Untuk kasus ringan, penanganan dengan terapi dua kali saja, sedangkan kasus berat sampai sembilan kali terapi,” ujarnya.
Penyebab LGBT dari berbagai faktor kebiasaan menonton film sesama jenis seperti Drakor, suasana yang mendukung mengarah LGBT, korban yang terlalu lugu mudah diiming-imingi, hingga kondisi sosial masyarakat.
“Tapi yang mendekati 100 persen, korban pelecehan LGBT bakal jadi pelaku LGBT,” jelasnya.
Untuk di Kukar, yang ditangani Linda baru empat kasus. “Kalau tidak mau melaporkan kasus, bagaimana mau ditangani karena untuk pencegahan harus mengetahui dulu masalahnya baru kita bisa mengambil solusi terbaiknya,” pungkasnya.(Andri)
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya








