deadlinenews.co/ – Prasasti Yupa, peninggalan abad ke-4 Masehi dari Kerajaan Kutai, resmi diusulkan sebagai memori kolektif dunia melalui program Memory of the World (MOW) UNESCO. Langkah ini disebut Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai tonggak bersejarah dalam upaya mengangkat warisan tertulis tertua Nusantara.
“Hari ini kita mengukir langkah bersejarah, Prasasti Yupa, bukti tertulis tertua di Nusantara dari abad ke-4 Masehi, diusulkan sebagai nominasi untuk MOW UNESCO, sekaligus pengisi kekosongan warisan dokumenter Indonesia dari periode peradaban awal,” ujar Fadli Zon Dilansir dari Antara, Senin (1/9/2025).
Menurut Fadli, melalui warisan dokumenter seperti Yupa, bangsa Indonesia dapat menyelami jejak pemikiran serta nilai luhur yang membentuk identitas. Hal ini sejalan dengan visi UNESCO untuk melawan amnesia kolektif.
Sejauh ini, Indonesia sudah memiliki 16 warisan dokumenter yang diakui UNESCO, mulai dari La Galigo hingga Negarakretagama. Namun, belum ada satupun yang mewakili periode peradaban awal.
Prasasti Yupa yang ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta menjadi simbol transisi Indonesia dari era prasejarah ke era sejarah. Artefak ini juga mencerminkan hubungan maritim global, khususnya kontak budaya dengan India, sekaligus bukti kemampuan bangsa Nusantara dalam mengadaptasi aksara, agama, dan sistem politik ke dalam kearifan lokal.
Yupa tidak hanya merekam silsilah raja-raja Kutai untuk menegaskan legitimasi kekuasaan, tetapi juga menjadi narasi besar yang menghubungkan bahasa Indo-Arya dengan bahasa lokal Nusantara.
Nominasi Yupa ke UNESCO didasarkan pada tiga kriteria utama MOW, yakni keaslian dan keunikan, nilai universal, serta risiko kelangkaan. Tujuh prasasti Yupa yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia telah terverifikasi keasliannya.
Namun, sebagai artefak batu andesit berusia lebih dari 1.600 tahun, Yupa rentan pelapukan. Untuk itu, pemerintah telah melakukan digitalisasi 3D dan membuat replika sebagai upaya pelestarian.
“Untuk melindunginya, digitalisasi 3D dan pembuatan replika telah dilakukan, dan pengakuan UNESCO diharapkan dapat memperkuat upaya proteksi ini,” tegas Fadli.
Fadli menambahkan, pemerintah mendukung penuh proses nominasi melalui repatriasi arsip, riset multidisipliner untuk menyusun dossier, hingga revitalisasi budaya lokal lewat Festival Erau.
Selain sebagai pengakuan akademik, Yupa diharapkan dapat menjadi katalis dalam pendidikan, ekonomi kreatif, hingga diplomasi budaya. Indonesia bahkan membuka peluang kerja sama dengan mitra internasional seperti Belanda dan India.
“Pengakuan ini diharapkan menjadi katalis bagi pendidikan melalui integrasi kurikulum, pengembangan ekonomi kreatif, serta penguatan diplomasi budaya dengan negara mitra seperti Belanda dan India,” ujar Fadli.
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya