deadlinenews.co/, SANGATTA – Pemerintah membangun proyek hilirisasi batu bara Dimethyl Ether (DME) di Kutai Timur, Kalimantan Timur, sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan memperkuat ketahanan energi nasional.
“Hilirisasi adalah strategi utama pembangunan nasional,” ujar Tenaga Ahli Sekretariat Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi, M. Fadhil Hasan, dilansir dari Antara Kaltim, Rabu (29/10/2025).
Langkah tersebut, kata Fadhil, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam Astacita 2 yang menekankan upaya mewujudkan swasembada energi melalui penguatan industri dalam negeri.
Ia menjelaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor energi fosil masih menjadi tantangan besar bagi kedaulatan energi nasional. Karena itu, proyek hilirisasi batu bara menjadi solusi untuk konversi LPG ke DME, sekaligus mendorong kemandirian energi jangka panjang.
Pemerintah menargetkan substitusi penuh LPG ke DME dapat tercapai pada tahun 2040. Proyek ini juga menjadi bagian penting dari transformasi ekonomi Kalimantan Timur, yang saat ini berkontribusi sekitar 42,8 persen terhadap produksi batu bara nasional.
Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi telah menetapkan proyek DME sebagai salah satu dari 18 proyek prioritas nasional, dengan nilai investasi mencapai 10,25 miliar dolar AS atau sekitar Rp164 triliun.
“Proyek ini diproyeksikan menyerap total 34.800 tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung,” ungkap Fadhil.
Selain DME, pemerintah juga mengarahkan hilirisasi batu bara untuk memproduksi metanol, yang nantinya bisa diolah menjadi biodiesel. Hilirisasi juga dikembangkan untuk menghasilkan grafit sintetik, komponen penting dalam produksi baterai kendaraan listrik (EV).
“Grafit sintetik merupakan komponen penting yang dibutuhkan untuk produksi baterai kendaraan listrik,” jelas Fadhil.
Lebih lanjut, batu bara kalori rendah (lignit) dengan cadangan melimpah akan dimanfaatkan untuk produksi amonia. Amonia hijau ini dikembangkan sebagai alternatif energi bersih dan berkelanjutan di masa depan.
“Proyek DME di Kutai Timur, bersama hilirisasi sawit di KEK Maloy, mencerminkan arah baru ekonomi Kaltim. Ekonomi daerah ini didorong beralih dari sekadar ekstraksi sumber daya alam menuju industri bernilai tambah,” tutup Fadhil.
