deadlinenews.co/, TENGGARONG – Menyadari potensi bisnis Migas bakal alami penurunan, Direktur Perusda PT Migas Gerbang Raja Mahakam(MGRM) Efri Novianto mengaku sudah menyiapkan antisipasi. Ia bercerita susah senang dalam menjalani bisnis Migas yang dilakukan MGRM.
Sejak awal memimpin MGRM, Efri dihadapkan pada persoalan finansial Perusda. Anggapan bahwa Perusda MGRM banyak uangnya, ternyata jauh panggand dari api. Saldo uang perusahaan hanya sisa Rp 280 juta pada Januari 2023. .
”Ada dana PI tetapi tidak boleh digunakan, sedangkan bayar gaji seluruh karyawan dan pimpinan ditambah operasional kantor Rp 300 juta lebih per bulannya,” ucap Efri, Selasa 30 September 2025.
Hal yang pertama kali dilakukan adalah membangun kepercayaan dari pemegang saham. ”Saya yakinkan bahwa MGRM ingin berubah menjadi baik, dan menjadi Perusda yang sehat dimiliki Pemkab Kukar,” jelasnya.
Dengan kondisi keuangan yang ada, manajemen mengeluarkan kebijakan efisiensi dengan melakukan penyesuaian skala upah. Karyawan diminta memilih bertahan dengan upah baru atau mengundurkan diri. Karyawan yang awalnya berjumlah 23 orang tersisa 11 orang. ”Karyawan yang memilih resign dibayarkan pesangon, itu pun dibayar dengan cara mencicil selama satu tahun karena kondisi keuangan perusahaan yang tidak memungkinkan,” kenang Efri.
Ada anggapan mengelola Participating Interest (PI) Blok Mahakam mudah. Diistilahkan tidur saja dalam kelambu sudah dapat keuntungan. “Saya tidak penyalahkan persepsi ini, tapi perlu diluruskan bahwa PI itu jika KKKS untung, maka kita dapat bagi hasil tetapi jika rugi, maka kerugian ditanggung bersama,” katanya.
Efri meluruskan, PI bukan diberikan serupa saham kepemilikan, tetapi Perusda mendapatkan hak atas produksi di hulu Migas sebesar 10 persen. Hasil dari penjualan jatah produksi yang 10 persen tadi dikurangi ongkos produksi dan PPH migas lalu dihitung menjadi pendapatan.
” Jadi tidak selamanya untung, ketika misalnya ongkos produksi lebih tinggi dari harga jual Migas kita atau terjadi penurunan harga migas dan banyak faktor lainnya,” tambahnya lagi.
Dia menjelaskan, rRata-rata sumur Migas berusia 40 sampai dengan 50 tahun. Secara alamiah, kecenderungan produksinya menurun (decline) sehingga perlu treatment khusus. Ini menaikan biaya operasional untuk mempertahankan produksi yang berdampak pada bagi hasil PI yang juga menurun.
Berbagai terobosan guna mendapatkan pendapatan di luar PI sudah dilakukan seperti pemanfaatan aset kantor berupa sewa ruang kantor, sewa kendaraan operasional, transportir dan trading BBM HSD, Jasa Handling BBM. Saat ini, PT MGRM juga menjadi vendor dan kontraktor Pertamina Group.
“Ada beberapa proyek kami di RDMP Balikpapan berupa modifikasi tangki, piping dan tie-in. ”Alhamdulilah MGRM sudah rutin salurkan deviden ke Pemkab dan CSR ke masyarakat, kalau ditotal sejak 2023 kita sudah setor 103 miliar dan tahun ini kemungkinan Rp25 sampai 30 miliar,” sebutnya.(Andri)
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya




