deadlinenews.co/, TENGGARONG – Suara perahu klotok memecah pagi di perairan Desa Muara Badak Ulu, Delta Mahakam. Di atasnya, Syamsul, petambak dari Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Salo Sumbala, melaju menuju tambaknya. Baginya, air payau yang dikelilingi rimbunnya bakau bukan sekadar lahan usaha, tetapi juga pelajaran penting: alam tak bisa ditaklukkan, melainkan harus dirangkul.
Dilansir dari Antara, Syamsul masih ingat masa kelam ketika ia dan petambak lain membabat habis hutan mangrove demi tambak. Awalnya panen berlimpah, namun hanya bertahan beberapa tahun. “Setelah tujuh, bahkan hampir sepuluh tahun, hasilnya terus menurun,” kenang Syamsul. Udang mati, tambak rapuh, dan sumber penghidupan terancam.
Titik balik datang lewat konsep silvofishery, integrasi budidaya perikanan dengan penanaman mangrove. Meski awalnya ragu, Syamsul mulai menanam bakau di petaknya pada 2006. Butuh waktu bertahun-tahun, namun kini hasilnya nyata. “Jauh lebih bagus sekarang kalau banyak bakaunya. Pohon-pohon ini fungsinya seperti penyangga,” ujarnya.
Mangrove yang tumbuh kembali menyediakan pakan alami, menjaga kualitas air, hingga menekan penyakit. Syamsul kini bisa membudidayakan udang windu, kepiting, hingga bandeng dalam sistem polikultur yang lebih stabil. Panen pun lebih sering dan beragam.
Konsep silvofishery ini dikembangkan oleh Profesor Esti Handayani Hardi, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman. Ia menekankan sistem polikultur yang menciptakan circular activity: limbah satu komoditas menjadi sumber hidup bagi yang lain.
“Mereka bisa panen parsial tiap bulan, dari kepiting, bandeng, sampai rumput laut,” kata Prof Esti. Beberapa petambak bahkan melaporkan hasil panen naik dua kali lipat setelah menerapkan sistem ini.
Tak berhenti di situ, Esti juga mengembangkan inovasi ramah lingkungan, mulai dari ekstrak tumbuhan sebagai prebiotik dan imunostimulan hingga sekolah lapang untuk melatih petambak. Inovasi ini sejalan dengan program revitalisasi tambak ramah lingkungan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Keberhasilan Delta Mahakam menjadikan silvofishery model percontohan nasional. Prof Esti kini diminta mendampingi petambak di Aceh, Lombok, NTT, hingga Pantura Jawa. Kolaborasi dengan NGO dan universitas luar negeri pun terus berkembang, termasuk riset bersama Stirling University, Inggris, tentang kemampuan mangrove menyerap bakteri resisten antibiotik.
Di Muara Badak Ulu, Syamsul merasakan langsung perubahan itu. Setiap kali perahu klotoknya membelah air menuju tambak, ia membawa keyakinan baru: hutan mangrove bukan penghalang, melainkan kunci kehidupan pesisir yang berkelanjutan.
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya