Sudah 174 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak, Ini Penyebab Tertinggi

deadlinenews.co/, TENGGARONG – Per Oktober 2025, tercatat sudah 174 kasus kekerasan pada perempuan dan anak di Kukar. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kukar akan lebih mengedepankan tindakan pencegahan. ‎”Iya, 174 kasus yang sudah kami tangani,” tegas Plt Kepala DP3A Kukar, Hero Suprayetno, Senin 27 Oktober 2025.

‎Hero menyebut, angka tersebut terbilang sangat tinggi. Kasus-kasus itu pun terungkap karena laporan ada yang dirugikan seperti korban dan keluarga korban. Ada juga yang terungkap melalui media. ‎”Masih banyak juga yang tidak melapor dengan pertimbangan aib kekeluargaan,” sebutnya.

‎Hero menyebut, kasus anak lebih sulit penanganannya jika dibandingkan kasus kekerasan terhadap perempuan. Seperti kasus pelecehan seksual anak. Jika korbannya masih anak-anak dan pelakunya juga masih anak-anak,  akan alami sulit penanganan. ‎”Yang namanya anak-anak, ada yang berani beri keterangan ada juga yang tidak, ini akan  sulit penanganan,” jelasnya.

‎Ke depannya, DP3A akan mengedepankan prinsip pencegahan dengan banyak lakukan sosialisasi dan konseling pencegahan kekerasan pada perempuan dan anak karena hampir rata-rata kasus seperti ini selalu ingin ditutupi.

‎”Apalagi pada saat penanganan ke lapangan pakai mobil dinas yang ada tulisan DP3A, jadi yang tadinya pihak keluarga ingin tidak ketahuan dengan orang banyak, akhirnya merasa ketahuan dengan kedatangan kami ke lapangan,” ucapnya.

Pihaknya akan mengirimkan beberapa orang konselor kejiwaan ke UPTD atau Kecamatan yang paling banyak laporan kasus. ‎”Setidaknya kami butuh 10 orang konselor kejiwaan guna jalankan program pencegahan kekerasan pada perempuan dan anak,” tegas Hero.

‎Terkait penyebab dominan terjadinya kekerasan pada perempuan dan anak, mulai faktor perekonomian dan pergaulan bebas hingga konsumsi gawai. “Kalau penggunaan HP hanya kasus tertentu saja seperti perilaku bullying (perundungan),” katanya.

‎”Faktor nomor satu tetap ekonomi. Korban anak dari keluarga ekonomi lemah, mudah diimingi-imingi sesuatu, akhirnya tergiur melakukan hal yang tidak wajar,” pungkasnya.(Andri)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp deadlinenews.co/

Gabung