deadlinenews.co/, SAMARINDA – Sebanyak delapan unit rumah Warga di RT 37 Kelurahan Karang Anyar, Sungai Kunjang, Kota Samarinda rusak, sebagian terpaksa dirobohkan karena kondisi tanah bergerak. Tanah labil terus mengancam permukiman warga. Saat ini, kondisi semakin parah hingga rumah warga yang terdampak terus bertambah.
Menurut Ketua RT 37 Karang Anyar Tamrin, kondisi tanah berbukit di atas permukiman memang sudah lama menjadi persoalan yang mengancam keselamatan warganya. Dari lahan perbukitan itu, mengalir air tanpa tak bisa dibendung. Selain karena tidak dibuatkannya kanal air khusus, kondisi diperparah oleh tidak adanya vegetasi atau tanaman pohon yang bisa menjadi penjaga kestabilan. Air terus meluber kemana-mana dan turun menerjang permukiman.
“Persoalan ini sudah sering di laporkan ke pihak berwenang seperti kelurahan hingga BPBD,” kata dia saat dihubungi media ini, Minggu 21 September 2025.
Namun, hingga kini tidak ada solusi yang nyata. Jawaban yang didapat, pemerintah tidak bisa melakukan penanganan karena lahan ini dikelola oleh pihak developer. “Telah lama lahan ini terbengkalai tanpa pelimpahan ke pemerintah,” kata Imran.
Memang, lanjut dia, ada pengembang yang membangun di atas lahan tersebut. Namun, sepengetahuan dia, pengembang tersebut sudah tidak beroperasi sejak 2017. Dia mendengar bahwa sebagian pembeli rumah sudah tak lagi berurusan dengan pengembang karena persoalan internal di manajemen. “Kami akhirnya bingung, kemana harus mencari solusi karena pengembang sendiri sudah tidak aktif,” tambah Irwan.
Solusi sementara, dia bersama warga berusaha melakukan reboisasi atau penanaman pohon. Saat ini situasi darurat. Satu persatu rumah terdampak. Terkini, pada pada Jumat 19 September 2025, kembali satu rumah warga roboh akibat longsor. Warga, BPBD, dan aparat keamanan harus bergotong royong merobohkan bangunan yang tersisa. “Apakah pemerintah tidak bisa mengambil kebijakan agar tidak ada jatuh korban jiwa?” ujar Tamrin.
Dia menambahkan, salah satu pemicu utama juga adalah keberadaan folder Taman Sejati di Jl MT Haryono. Jika musim hujan, maka debit air bertambah hingga meluber. Celakanya, saat pintu air dibuka, tidak ada kanal khusus yang dibuat dari folder tersebut sehingga air mencari jalan ke bawah, melalui sisi bagian atas menuju Jl Kelapa Gading yang lebih rendah.
“Ini karena tidak dibuatkan saluran air yang layak dan sejauh ini air mengalir dengan membuat jalannya sendiri menuju permukiman. Ini yang membuat air menumbuk dalam tanah, tanah bergerak, pondasi rumah geser dan roboh,” tukasnya.
Tamrin berharap persoalan tanah labil yang terjadi sejak tahun 2017 hingga kini mendapat perhatian pemerintah. “Total sudah delapan rumah yang roboh. Harapan kami, ada perhatian pemerintah tanpa perlu birokrasi yang rumit, karena situasi darurat,” bebernya.
Solusi nyata yang diharapkan saat ini adalah pembuat saluran air dari Taman Sejati agar air tidak meluber dan menerjang permukiman. Termasuk penanaman pohon di atas lahan perbukitan yang bisa menjaga kestabilan tanah. (ama)
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya