Warga Muara Ponaq Bertahun-tahun Hidup Tanpa Listrik, Harap PLN Segera Masuk

Muara Ponaq, listrik PLN, Kutai Barat, genset, panel surya
Solar cell salah satu alternatif sumber daya alam untuk menerangi Kampung Muara Ponaq Kutai Barat, masyarakat berhadap PLN Segera Masuk. ( Foto: RRI/MCJ/ Desa Mura Ponaq )

deadlinenews.co/, SENDAWAR – Di tengah gencarnya digitalisasi, warga Kampung Muara Ponaq, Kecamatan Siluq Ngurai, Kabupaten Kutai Barat, masih hidup dalam keterbatasan. Selama bertahun-tahun, 84 kepala keluarga atau sekitar 300 jiwa di kampung tersebut belum menikmati aliran listrik PLN. Mereka hanya mengandalkan genset dan panel surya seadanya, sembari menunggu realisasi pemasangan listrik yang tak kunjung tiba.

Dilansir dari RRI, Petinggi Muara Ponaq, Rudiyanto, menyebut sebagian besar warga memasang panel surya pribadi dengan kapasitas terbatas. Bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari pemerintah provinsi yang diberikan delapan tahun lalu pun kini hampir tidak berfungsi.

“Sekarang hanya bisa menyala satu jam saja, itu pun terbatas. Sisanya paling lampu jalan. Sudah hampir setahun kondisinya begini,” ungkap Rudiyanto.

Keterbatasan itu membuat warga terpaksa menghidupkan genset di malam hari. Namun konsekuensinya, biaya rumah tangga semakin membengkak. Dengan durasi pemakaian 4–6 jam, genset rata-rata menghabiskan 4–5 liter bensin per malam. Dengan harga bensin yang kini mencapai Rp18 ribu per liter, beban ekonomi warga semakin berat.

“Bisa dibayangkan, sudah bertahun-tahun kami tidak memiliki penerangan yang layak. Tanpa listrik, banyak pekerjaan masyarakat tidak bisa berjalan,” kata Rudiyanto.

Meski begitu, secercah harapan mulai muncul. Beberapa bulan terakhir, tim PLN telah melakukan pengecekan jalur listrik dari Muara Tae menuju Muara Ponaq dengan jarak sekitar 10 kilometer. Warga berharap rencana itu segera terealisasi agar kampung mereka bisa terang benderang.

Selain masalah listrik, warga Muara Ponaq juga menghadapi keterbatasan jaringan komunikasi. Sinyal operator seluler kerap hilang, sehingga akses komunikasi sulit dilakukan. Sebagian warga bahkan terpaksa memasang Starlink untuk mendapatkan internet, meski belakangan pemasangan perangkat tersebut mulai dibatasi.

“Kami berharap ada solusi, baik dari pemerintah maupun penyedia jaringan, agar masyarakat bisa menikmati komunikasi yang layak,” ujar Rudiyanto.

Untuk saat ini, warga hanya bisa bersabar sembari menanti perhatian serius dari pemerintah. Mereka percaya, suatu saat listrik PLN benar-benar masuk ke kampung, membuka jalan bagi kehidupan yang lebih baik.

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya