Iran Mengancam Balas Dendam Setelah Pembunuhan Pemimpin Hamas di Teheran

deadlinenews.co/ – Ketegangan di Timur Tengah semakin memuncak setelah Iran secara terbuka mengancam untuk membalas dendam terhadap Israel atas kematian Ismail Haniyeh, pemimpin Hamas, yang terbunuh di Teheran pada 31 Juli lalu. Serangan ini, yang dianggap oleh Teheran sebagai pelanggaran berat, telah memicu reaksi keras dari berbagai pihak di Iran.

Ismail Haniyeh, yang berada di Teheran untuk menghadiri pelantikan Presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian, ditemukan tewas dalam sebuah serangan yang langsung dikaitkan dengan Israel oleh pihak Iran. Pembunuhan Haniyeh telah memicu kemarahan dan seruan balas dendam di kalangan pejabat tinggi Iran.

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Ali Mohammad Naeini, menegaskan bahwa Israel akan menghadapi respons yang tegas sebagai balasan atas pembunuhan tersebut. “Kami akan memberikan respons yang kuat dan menentukan kepada rezim Zionis,” kata Naeini dalam pernyataannya dilansir sindonews.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga menegaskan bahwa tindakan membalas dendam atas kematian Haniyeh adalah “tugas agama dan nasional”. Pernyataan ini memperkuat tekad Iran untuk mengambil langkah-langkah tegas dalam menghadapi apa yang mereka anggap sebagai agresi Israel.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah memperingatkan agar pemerintah tidak terjebak dalam perang psikologis yang menurutnya dilancarkan oleh Israel, Amerika Serikat (AS), dan Inggris. Dalam pertemuan dengan anggota Kongres Nasional Martir Kohgiluyeh dan Provinsi Boyer-Ahmad, Khamenei menegaskan pentingnya ketahanan nasional dan menolak segala bentuk intimidasi dari negara-negara Barat.

“Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa kemunduran non-taktis di bidang apa pun, baik militer, politik, maupun ekonomi, akan mendatangkan murka ilahi,” kata Khamenei. Ia menambahkan bahwa para martir sebelumnya melawan ancaman seperti ini dengan pengorbanan dan perjuangan mereka, menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh menyerah pada tuntutan dari kekuatan hegemoni Barat.

Pernyataan ini muncul pada saat ketegangan di kawasan semakin memuncak. Iran dan Hamas secara terbuka menuduh Israel sebagai pelaku pembunuhan Haniyeh, meskipun Israel belum mengakui atau menyangkal keterlibatannya. Iran berjanji untuk memberikan respons terhadap agresi ini dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ali Shamkhani, penasihat Khamenei, mengungkapkan bahwa persiapan untuk balasan “yang keras dan menghancurkan” terhadap Israel sudah dilakukan. “Proses hukum, diplomatik, dan media telah meletakkan dasar untuk menghukum berat rezim yang hanya mengerti bahasa kekerasan,” tulis Shamkhani dalam sebuah posting di X.

Di sisi lain, media Barat telah menyoroti respons Iran sebagai potensi hambatan dalam upaya negosiasi Israel-Palestina yang sedang berlangsung. Respons Iran, yang dianggap sah oleh mereka, justru dipandang sebagai ancaman terhadap prospek perdamaian di kawasan tersebut.

Tayang di Sindonews.com

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim

Exit mobile version