Kaltim  

PLN Tambah 1.122 MW Listrik EBT di Kaltim-Kaltara, Perkuat Transisi Energi Hijau Nasional

deadlinenews.co/, SAMARINDA – PT PLN (Persero) menegaskan komitmennya dalam mendukung percepatan transisi energi hijau di Indonesia dengan menyiapkan penambahan daya listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) sebesar 1.122,7 megawatt (MW) untuk wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltim-Kaltara) hingga tahun 2034. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem kelistrikan berkelanjutan di kawasan tersebut.

Dilansir dari Antara Kaltim, Manager Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) PLN Samarinda, Hendra Irawan, mengatakan rencana tersebut tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru.

“Melalui RUPTL, kami berkomitmen mempercepat transisi energi menuju energi hijau. Khusus untuk Kaltim sendiri, mulai tahun 2025 sampai 2034 ada kurang lebih 1.122,7 MW energi baru terbarukan yang akan dikembangkan,” ujar Hendra di Samarinda, Rabu (8/10/2025).

Menurutnya, wilayah kerja UP3 PLN Samarinda yang meliputi Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, dan Mahakam Ulu menghadapi sejumlah tantangan dalam realisasi program tersebut. Salah satunya karena sebagian besar sumber energi baru terbarukan berada di wilayah terpencil, jauh dari pusat permintaan listrik.

“Ada kesenjangan antara pusat beban dengan pusat pembangkit. Karena itu, dukungan pemerintah daerah maupun pusat sangat dibutuhkan, terutama terkait perizinan,” jelasnya.

Hendra menambahkan, proyek pengembangan energi hijau ini ditargetkan dapat meningkatkan bauran EBT dalam sistem kelistrikan Kaltim-Kaltara menjadi 47,4 persen pada 2034, sekaligus menekan dominasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan batu bara hingga tersisa 20,6 persen dalam sepuluh tahun ke depan.

Untuk mencapai target tersebut, PLN memanfaatkan potensi besar sumber daya EBT di Kalimantan Timur, terutama dari tenaga air (PLTA) dan tenaga surya (PLTS). Salah satu proyek utama yang disiapkan adalah PLTA di wilayah Mahakam Ulu, yang memiliki kapasitas besar namun berlokasi jauh dari pusat konsumsi listrik.

Untuk mengatasi tantangan geografis itu, PLN akan membangun infrastruktur jaringan transmisi skala besar guna menghubungkan sumber energi dengan pusat-pusat kebutuhan listrik di daerah padat penduduk. Meski begitu, Hendra mengakui pembangunan transmisi menghadapi kendala lain, seperti pembiayaan serta kompleksitas perizinan lahan dan sosial masyarakat.

Selain tenaga air dan surya, PLN juga tengah menjajaki potensi biomassa sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber energi terbarukan di Kaltim. Hendra menegaskan, kolaborasi antara PLN, pemerintah, dan pelaku usaha (Independent Power Producer/IPP) menjadi kunci keberhasilan agenda transisi energi ini.

“Komitmen ini sejalan dengan upaya pemerintah mencapai kedaulatan energi dan mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan listrik yang andal dan berkelanjutan,” pungkasnya.

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya