deadlinenews.co/, SAMARINDA – Kinerja ekspor Kaltim 2025 menunjukkan dominasi kuat Tiongkok sebagai negara tujuan utama. Data ekspor Kalimantan Timur mencatat lonjakan pengiriman komoditas tambang serta pergerakan ekspor migas dan nonmigas yang signifikan. Sepanjang tahun, ekspor Kaltim 2025 menjadi sorotan karena kontribusinya terhadap perekonomian daerah terus mengalami dinamika.
Dilansir dari RRI Kaltim, nilai ekspor Kaltim 2025 ke Tiongkok tercatat mencapai US$6.637,93 juta atau setara 34,85 persen dari total ekspor Provinsi Kalimantan Timur. Capaian ini menempatkan Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar Kaltim sepanjang periode Januari hingga Desember 2025.
Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim, Ariyanti Cahyaningsih, menyampaikan bahwa India menempati posisi kedua sebagai negara tujuan ekspor dengan nilai US$3.030,10 juta atau 15,91 persen. Sementara itu, Filipina berada di peringkat ketiga dengan nilai ekspor US$1.552,22 juta atau setara 8,15 persen. Kondisi ini memperlihatkan sebaran pasar tujuan ekspor Kaltim 2025 yang masih didominasi kawasan Asia.
Ariyanti juga menjelaskan bahwa sektor pertambangan masih menjadi tulang punggung utama ekspor Kaltim 2025 dengan kontribusi sebesar 69,51 persen. Di posisi kedua terdapat sektor industri yang menyumbang 20,66 persen, sedangkan sektor minyak dan gas bumi berada di urutan ketiga dengan peranan sebesar 9,72 persen.
Sementara itu, Statistisi Ahli Madya BPS Kaltim lainnya, Vivi Azwar, mengungkapkan nilai ekspor Kaltim 2025 pada Desember tercatat sebesar US$2.305,59 juta. Angka tersebut meningkat 36,77 persen dibandingkan bulan sebelumnya, yakni November 2025. Kenaikan ini menandakan adanya perbaikan aktivitas perdagangan di akhir tahun.
Vivi merinci bahwa ekspor migas pada Desember 2025 mencapai US$264,91 juta atau melonjak 109,78 persen dibandingkan November 2025. Di sisi lain, ekspor nonmigas juga mencatat pertumbuhan dengan nilai US$2.040,68 juta atau naik 30,86 persen. Pergerakan ini turut memperkuat kinerja ekspor Kaltim 2025 secara keseluruhan.
“Berdasarkan golongan barang, peningkatan nilai ekspor nonmigas terbesar pada Desember 2025 terhadap November 2025 terjadi pada golongan lemak dan minyak hewani atau nabati yang naik sebesar US$293,54 juta atau 246,24 persen,” ujar Vivi.
Berdasarkan golongan barang, peningkatan terbesar ekspor nonmigas terjadi pada kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati. Nilainya naik sebesar US$293,54 juta atau melonjak hingga 246,24 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, penurunan terdalam terjadi pada golongan berbagai produk kimia yang turun sebesar US$15,31 juta atau 25,39 persen.
Kenaikan ekspor Kaltim 2025 juga dipicu oleh meningkatnya ekspor hasil minyak dan gas. Nilai ekspor hasil minyak tercatat naik 75,70 persen, dari US$42,23 juta pada November menjadi US$74,20 juta pada Desember 2025. Sementara itu, nilai ekspor gas melonjak 126,90 persen, dari US$84,05 juta menjadi US$190,71 juta.
“Sementara nilai ekspor gas naik sebesar 126,90 persen dari US$84,05 juta pada November 2025 menjadi US$190,71 juta pada Desember 2025,” ujar Vivi.
Dari sisi pelabuhan, kontribusi terbesar terhadap ekspor Kaltim 2025 pada Desember berasal dari Pelabuhan Balikpapan dengan nilai US$730,70 juta. Disusul Pelabuhan Samarinda sebesar US$418,74 juta dan Pelabuhan Bonthan Bay yang menyumbang US$361,96 juta.
Secara kumulatif, total nilai ekspor Kaltim 2025 sepanjang Januari hingga Desember mencapai US$21.098,77 juta. Meski demikian, angka tersebut tercatat mengalami penurunan sebesar 14,46 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Kondisi ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan strategi peningkatan ekspor ke depan.




