deadlinenews.co/, TENGGARONG – Kemajuan sebuah lembaga pendidikan kerap identik dengan kawasan perkotaan. Sarana dan prasarana lengkap. Plus gedung megah menjulang. Namun, SMPN 7 Muara Kaman, Kutai Kartanegara mampu mematahkan kesan tersebut.
Meskipun tergolong daerah tertinggal terdepan terjauh (3T), sekolah yang berlokasi di Desa Menamang Kanan tersebut bangkit dari segala keterbatasan. Bahkan, prestasinya bikin cemburu sekolah lain di ibu kota kabupaten..
”Sekolah kami ditetapkan sebagai Sekolah Rujukan Google (SRG) sejak Juni 2025 lalu,” sebut Guru Pendamping Teknologi Informatika SMPN 7 Muara Kaman, Suwito, Rabu 12 November 2025.
Suwito bercerita, sekolahnya menjadi satu-satunya sekolah negeri di Indonesia yang masuk dalam daftar Sekolah Rintisan Google secara global. Kebanyakan, SRG internasional disandang sekolah swasta yang memang identik dengan finansial mapan.
Perjuangan bersama tim agar bisa menuju SRG bukan perkara mudah. Terjalnya tantangan dilalui selama tiga tahun benar-benar menguras otak, memeras keringat. Hadangan paling berat adalah infrastruktur dasar. Namanya desa di pedalaman. Jaringan listrik tidak tersedia secara penuh.
”Bagaimana mau mengembangkan pembelajaran internet, listrik saja tidak sampai 24 jam. Lampu di kampung hanya menyala di malam hari,” ungkapnya.
Pelan-pelan, dengan modal tekad membara, para siswa memulai belajar dengan bermodalkan 15 unit chromebook bantuan dari Kemendikbud RI. Dilakukan secara luring alias offline. Tanpa jaringan internet.
Semuanya berubah drastis saat bantuan modem internet Starlink datang dari Disdikbud Kukar, plus panel listrik tenaga surya dengan volume daya yang lumayan besar. Siswa SMPN 7 mulai merasakan surga berselancar dengan kecepatan internet di atas rata-rata.
”Berdampak juga terhadap peningkatan jumlah siswa. Dari awalnya hanya berjumlah 61 orang, saat ini jumlah siswa mencapai 134 orang. Gabungan juga Desa Menamang Kiri. Ada juga yang dari Muara Bengkal Kutim,” jelasnya.
Kunci Raih SRG
Menurut Pak Wit, panggilan akrab Suwito, kunci keberhasilan sekolah yang berjarak ratusan kilometer dari Kota Tenggarong, Ibu Kota Kabupaten Kukar ini adalah bagaimana pola pembelajaran Google di Chromebook mengubah paradigma lama. ”Pembelajaran lebih banyak di alam, bukan lagi melulu di dalam kelas,” bebernya.
Pria asal Solo ini mencontohkan, pembelajaran berkebun kelapa sawit sudah terintegrasi dengan Google Form, Siswa diajarkan dari metode pembibitan, pemupukan hingga masa panen kelapa sawit. Serta menghitung berapa hasil panen.
”Termasuk hasil penjualan berapa, upah buruh berapa, keuntungan berjualan sawit berapa. Itu semuanya sudah terintegrasi dengan Google Form,” ucapnya.
Terapkan Teknologi, Pakai Hati
Saat tim penilai Google Global mendatangi langsung ke SMPN 7 Muara Kaman mereka dibuat terperangah. Setengah tak percaya. Bagaimana tidak? Kondisi sekolah yang berada di daerah 3T, tetapi justru bisa meraih SRG.
“Kami sampaikan bahwa semua dimulai dengan hati. Banyak orang memanfaatkan teknologi saja, tapi tidak memakai hati,” ucap Wit.
Menurutnya, jangan memberikan akses teknologi sebebas-bebasnya kepada anak didik. Harus terus dipantau dan diawasi. Jika tidak, mereka berpotensi menyalahgunakan teknologi. ”Seperti penggunaan AI (Artificial Intelligence) pada anak, itu bisa diselewengkan dengan hal-hal yang negatif, maka penggunaannya harus dipantau. AI sebagai penunjang saja, kualitas diri ada pada hati kita. Manfaatkan teknologi dengan hati,” pungkasnya.(Andri)




