DEADLINENEWS.CO, KUKAR – Meskipun sudah selesai bertugas dalam misi kemanusiaan di Gaza Palestina, sembilan bulan lalu, ingatan dokter sepsialis anak senior Kukar, dr. Bambang Surif Sp.A masih lekat dengan nasib buruk yang dialami anak-anak korban genosida Israel.
”Anak-anak di Gaza didominasi gizi buruk parah,” kenang Bambang, saat ditemui media ini, Rabu 6 Mei 2026.
Penyakit lainnya yang diderita anak-anak Gaza seperti sesak nafas akut, anemia berat, penyakit kulit, serta Hidrocypalus. Penyembuhan tidak mudah karena kondisinya diperparah dengan gizi buruk.
Bambang yang bertugas di RS Rantesse dan RS Nasser Khan Kota Gaza banyak meneteskan air mata selama menjalakan masa tugas 20 hari. Bagaimana tidak. Anak-anak yang mengalami gizi buruk parah terlhat jelas dari tulang rusuk dada dan tulang wajah yang menonjol. ”Karena kurus parah, anak tersebut sudah tidak bisa tersenyum, padahal dua tahun yang lalu masih sehat,” kenangnya.
Kata dia, permasalahan kesehatan gizi buruk bagi anak-anak Gaza tidak akan pernah selesai. Sebab, faktor utamanya penyebabnya memang disengaja. Akses masuk makanan dan obat-obatan dibatasi. ”Saya ini ingin bawa makanan dan obat-obatan berlebih bantu anak gaza, juga dilarang oleh tentara Israel,” jelasnya.
Pengalaman mengharukan baginya adalah saat memasuki daerah kekuasaan Israel Kisufim. “Bis kami didatangi warga Gaza dengan baju yang lusuh demi meminta makanan walaupun sedikit,” katanya.
Kondisi krisis makanan yang terjadi di Gaza sangat parah. Kanan kiri hanya ada tenda lusuh. Tidak ada bangunan yang berdiri kokoh imbas penyerangan tentara zionis. ”Yang bikin saya menangis, mereka sangat kelaparan, tetapi tidak ada yang sampai melakukan hal-hal anarkis,” jelasnya.
Bambang meyakini, apa yang dilakukan Israel adalah kejahatan genosida karena terjadi pembunuhan massal generasi tertentu. Itu terlihat dari pola dan praktek yang dilakukan tentara Israel. Bantuan makanan dan obat-obatan yang datang dihancurkan. ”Bantuan makanan melalui udara diarahkan di titik tertentu untuk diambil. Setelah diambil warga, baru dilakukan penembakan oleh tentara israel,” ungkapnya.
Dia mengikuti program relawan kemanusiaan melalui lembaga Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) bersama mitra Rahmawoeld Wide selama 20 hari. ”Saya masih ingin kembali ke Gaza,” harapnya.
Bambang mengakui, mengikuti misi relawan kemanusiaan berarti tanpa bayaran sama sekali. Segala keperluan disiapkan sendiri. Kondisi ini tentu berat bagi yang sudah menjadi kepala rumah tangga karena harus turut memikirkan nasib keluarga di tanah air.
”Saya harus juga mencari nafkah di sela misi kemanusiaan tadi. Artinya, kalau saya melakukan jeda dalam misi, berarti saya sedang menjalankan fungsi sebagai kepala rumah tangga,” tutupnya.













