Kaltim  

3 Pahlawan Perempuan Kalimantan yang Menginspirasi: Dari Nyai Balau hingga Aminah Syukur

Foto: Potret Aminah Syukur. Foto: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda

DEADLINENEWS.CO, BALIKPAPAN – Kisah inspiratif perempuan menjadi sorotan dalam jejak sejarah yang memperlihatkan peran penting perempuan dari Pulau Kalimantan dalam memperjuangkan keadilan, pendidikan, hingga kemerdekaan.

Dilansir dari DetikKalimantan, Kalimantan tidak hanya dikenal dengan kekayaan alamnya, tetapi juga melahirkan pahlawan perempuan Kalimantan yang memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah bangsa. Kisah mereka mencerminkan keberanian, keteguhan, serta semangat juang yang diwariskan lintas generasi.

Salah satu tokoh yang dikenal luas adalah Nyai Balau. Ia berasal dari Tewah, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Sosoknya dikenal bukan hanya karena kesaktian, tetapi juga kebijaksanaan dalam menegakkan keadilan.

Kehidupan Nyai Balau berubah ketika anak laki-lakinya tewas secara tragis. Peristiwa itu mendorongnya untuk menuntut keadilan terhadap pelaku bernama Antang. Dalam pertempuran sengit, Nyai Balau berhasil mengalahkan lawannya dan kemudian dikenal sebagai perempuan sakti sekaligus pemimpin yang disegani.

Kisah Nyai Balau menjadi simbol keteguhan hati seorang ibu serta bukti bahwa perempuan mampu menjadi pemimpin dan penegak nilai-nilai kemanusiaan dalam masyarakat Dayak.

Tokoh berikutnya adalah Ratu Zaleha, pejuang perempuan dari Kalimantan Selatan yang berperan penting dalam Perang Banjar melawan penjajah Belanda. Ia merupakan putri Sultan Muhammad Seman dan cucu Pangeran Antasari.

Sejak muda, Ratu Zaleha telah menunjukkan keberanian luar biasa. Ia bahkan mampu menggerakkan perempuan Dayak untuk ikut dalam perlawanan. Meski menghadapi tekanan berat, termasuk gugurnya sang ayah dan jatuhnya benteng perjuangan, ia tetap melanjutkan perlawanan.

Pada akhirnya, Ratu Zaleha menyerahkan diri pada 1906 dan diasingkan ke Bogor. Ia kembali ke Kalimantan Selatan pada 1937 dan dikenang sebagai simbol kegigihan perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Sementara itu, dari Kalimantan Timur, terdapat sosok Aminah Syukur yang dikenal sebagai pelopor pendidikan perempuan. Lahir dengan nama Atje Voorstad, ia kemudian menetap di Samarinda dan mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan.

Pada 1928, Aminah mendirikan sekolah khusus perempuan bernama Meisje School. Langkah tersebut menjadi terobosan besar di masa kolonial, ketika akses pendidikan bagi perempuan masih sangat terbatas.

Ia dikenal sebagai pendidik yang berdedikasi tinggi. Bahkan, setelah jam sekolah usai, Aminah tetap mengajar dengan mendatangi rumah murid-muridnya. Dedikasinya membuat ia dihormati dan dijuluki “Nenek Belanda” oleh para murid.

Kontribusi Aminah dalam dunia pendidikan turut membuka jalan bagi perempuan di Kalimantan Timur untuk mendapatkan hak belajar yang setara. Jejak perjuangannya masih terasa hingga kini, khususnya dalam perkembangan pendidikan di Samarinda.

Ketiga tokoh ini menjadi bukti nyata bahwa pahlawan perempuan Kalimantan memiliki peran besar dalam membentuk sejarah, baik melalui perjuangan fisik, sosial, maupun pendidikan.

Warisan nilai yang mereka tinggalkan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini untuk terus melanjutkan semangat perjuangan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.