DEADLINENEWS.CO, SAMARINDA – Pengelolaan sampah plastik menjadi fokus perhatian dalam upaya mengatasi masalah sampah yang hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Dilansir dari RRI, persoalan sampah, khususnya pengelolaan sampah plastik, masih menjadi tantangan besar di Kalimantan Timur. Berbagai upaya telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, termasuk meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Ahli Muda Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Timur, Yuliana Nidyasari menjelaskan bahwa proses pengelolaan sampah plastik dimulai dari tahap pemilahan berdasarkan jenisnya.
“Jenis sampah harus dilihat terlebih dahulu. Di laut, kami fokus pada sampah plastik. Selain itu, juga ditemukan sampah lain seperti kayu, kaca, dan bahan berbahaya dan beracun (B3),” ujarnya.
Setelah dipilah, sampah kemudian dikelola menggunakan konsep 3R, yakni Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang). Menurut Yuliana, sampah plastik masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bernilai guna.
“Sampah plastik sebenarnya masih bisa didaur ulang menjadi produk yang bermanfaat,” katanya.
Ia menambahkan, dalam berbagai kegiatan edukasi lingkungan, sampah plastik bahkan dapat diolah menjadi produk kreatif seperti suvenir yang memiliki nilai ekonomi.
Namun demikian, pengelolaan sampah plastik menjadi penting karena jenis sampah ini sangat sulit terurai secara alami. Yuliana menyebutkan, plastik membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk terdegradasi di lingkungan.
“Selama proses tersebut, sampah plastik di laut dapat termakan oleh ikan dan biota laut lainnya,” ucapnya.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu rantai makanan dan berdampak pada kesehatan manusia. Kandungan bahan kimia dalam plastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi ikan yang telah terkontaminasi.
“Beberapa penyakit, seperti kanker, diduga dapat dipengaruhi oleh paparan bahan berbahaya dari sampah plastik yang masuk ke rantai makanan,” jelasnya.
Yuliana menekankan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor utama dalam mengatasi pencemaran lingkungan. Ia menilai, pengelolaan sampah plastik tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Upaya kolektif, inovasi, serta penguatan edukasi lingkungan dinilai menjadi kunci dalam menekan dampak negatif sampah plastik. Dengan penerapan konsep 3R secara konsisten, diharapkan pengelolaan sampah plastik di Kalimantan Timur dapat berjalan lebih optimal.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian ekosistem laut dan kesehatan masyarakat di masa depan.
