DEADLINENEWS.CO, TENGGARONG – Kebakaran Loa Ipuh terjadi di Jalan Ar-Risalah 1, Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Rabu, 12 Agustus 2026. Kebakaran lahan yang diduga dipicu puntung rokok itu membuat sebuah gubuk dan sebagian area di sekitarnya hangus terbakar.
Dilansir dari Headline Kaltim, api pertama kali diketahui warga sekitar pukul 13.57 WITA. Kobaran api mulanya muncul sebagai titik kecil di sekitar area yang biasa digunakan warga untuk memancing. Namun, kondisi lahan yang kering akibat cuaca panas membuat api cepat membesar dan merambat ke vegetasi di sekitarnya.
Koordinator Lapangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Kartanegara, Eko Suryawinata, mengatakan dugaan sementara kebakaran tersebut dipicu kelalaian seorang pemancing yang membuang puntung rokok sembarangan. Menurut Eko, kondisi cuaca yang sangat panas turut mempercepat penyebaran api. Vegetasi yang mengering membuat material di sekitar lokasi menjadi mudah terbakar, sementara angin membantu kobaran api merambat ke area lainnya.
“Dugaannya akibat puntung rokok, diperparah cuaca yang sangat panas, menyebabkan lahan mudah terbakar,” sebut Koordinator Lapangan BPBD Kukar, Eko Suryawinata.
Begitu menerima laporan warga, BPBD Kukar langsung mengerahkan personel dan peralatan ke lokasi. Penanganan kebakaran Loa Ipuh dilakukan menggunakan satu unit mobil pemadam kebakaran, satu unit mobil tangki air, serta satu unit pompa portable. Upaya pemadaman juga mendapat dukungan dari relawan di sekitar wilayah kejadian. Tim Reaksi Cepat (TRC) Loa Ipuh diterjunkan dengan satu unit mobil relawan dan tiga pompa portable tambahan. Relawan dari Redkae Etam Bersama turut membantu proses pemadaman. Tim gabungan kemudian melakukan penyisiran dan pendinginan di area yang terbakar. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak terdapat bara atau titik panas yang dapat kembali memicu kobaran api.
“Pemadaman dan pendinginan selesai pada pukul 15.11 WITA,” ucap Eko.
Peristiwa kebakaran Loa Ipuh menjadi perhatian karena api yang awalnya hanya terlihat di area kecil dapat berkembang dengan cepat dalam kondisi lahan kering. Kebakaran juga menyebabkan sebuah gubuk yang berada di sekitar lokasi ikut terbakar. Kejadian tersebut sekaligus menjadi pengingat mengenai potensi bahaya aktivitas yang menghasilkan sumber api di tengah kondisi cuaca panas. Puntung rokok yang dianggap kecil dapat menjadi pemicu kebakaran apabila dibuang ke area dengan vegetasi kering.
Kebakaran Lahan Juga Terjadi di Rapak Lambur
Kebakaran lahan juga terjadi sehari sebelumnya, Selasa, 11 Agustus 2026, di Jalan Gerbang Dayaku, Desa Rapak Lambur, Tenggarong. Api muncul di area belakang pemakaman muslimin desa setempat. Jika kebakaran Loa Ipuh diduga berasal dari puntung rokok, kebakaran di Rapak Lambur diduga berkaitan dengan aktivitas pembakaran sampah dalam jumlah besar. Area tersebut diketahui kerap digunakan warga untuk membakar sampah. Lokasinya yang berada cukup jauh dari permukiman membuat aktivitas tersebut dianggap tidak terlalu berisiko. Namun, kondisi cuaca yang kering menyebabkan api dari pembakaran sampah merembet ke lahan di sekitarnya. Kobaran api kemudian membesar dan sulit dikendalikan sehingga petugas harus turun tangan. Sebanyak tiga unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani kebakaran lahan tersebut. Ketua RT 5 Rapak Lambur, Sopiansyah, yang melihat langsung kejadian itu, mengatakan api sudah terlihat membesar setelah salat Magrib.
“Saya lihat api sudah membesar setelah solat Magrib di jam 18.40 WITA, Pemadaman dan pendinginan selesai di jam 19.36 WITA,” ucap Sopiansyah, Ketua RT.5 Rapak Lambur.
Dua kejadian tersebut menunjukkan kondisi lahan kering di tengah cuaca panas dapat mempercepat penyebaran api. Kebakaran Loa Ipuh maupun kebakaran lahan di Rapak Lambur sama-sama membutuhkan penanganan petugas dan dukungan relawan agar api tidak meluas. Masyarakat diimbau lebih berhati-hati ketika melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api, termasuk membuang puntung rokok dan membakar sampah. Kewaspadaan menjadi penting terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering dan mudah terbakar.













