Puncak Kemarau, 14 Kecamatan di Kukar Sudah Alami Karhutla

Puncak Kemarau, 14 Kecamatan di Kukar Sudah Alami Karhutla
Petugas BPBD Kukar bersama TNI/Polri menangani Karhutla. (sumber: BPBD Kukar)

DEADLINENEWS.CO, TENGGARONGKarhutla Kukar semakin meluas di tengah puncak musim panas yang berlangsung sepanjang Agustus 2026. Dari total 20 kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, sebanyak 14 kecamatan telah mengalami kebakaran hutan dan lahan dengan total 36 titik yang sudah ditangani BPBD Kukar.

Dilansir dari Headline Kaltim, Sekretaris BPBD Kukar, Aspiannur Sandi, mengatakan kejadian tersebut tersebar di sejumlah wilayah. Kondisi cuaca panas dan kering yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir turut meningkatkan potensi muncul serta meluasnya kebakaran.

“Hingga hari ini, kami sudah menangani 36 titik Karhutla yang tersebar di 14 kecamatan,” sebut Sekretaris BPBD Kukar, Aspiannur Sandi.

Aspiannur menyebut sejumlah kecamatan yang telah mengalami Karhutla Kukar, antara lain Muara Badak, Sangasanga, Muara Jawa, Samboja, Marang Kayu, Loa Janan, Loa Kulu, Tenggarong, Samboja Barat, Muara Kaman, dan Tenggarong Seberang.

BPBD Kukar memperkirakan kondisi kemarau belum akan berakhir dalam waktu dekat. Penurunan intensitas musim kering baru diprediksi terjadi pada September mendatang sehingga masyarakat masih akan menghadapi cuaca panas dan kondisi lahan yang kering selama beberapa pekan ke depan.

Menurut Aspiannur, puncak panas mulai terasa sejak 8 Agustus 2026. Dalam 15 hari terakhir, wilayah tersebut juga tidak mengalami hujan.

“Bulan November-Desember nanti akan mengalami penurunan suhu panas,” ujarnya.

Risiko Karhutla Meningkat Saat Cuaca Panas

Kondisi panas yang mencapai puncaknya pada Agustus membuat potensi Karhutla Kukar semakin tinggi. Vegetasi dan lahan yang berada dalam kondisi kering lebih mudah terbakar sehingga api berisiko cepat menyebar apabila tidak segera ditangani.

BPBD Kukar mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Salah satunya dengan tidak membuka lahan menggunakan metode pembakaran, terlebih saat kondisi cuaca sedang panas dan kering.

Masyarakat juga diminta tidak sembarangan membakar sampah. Aktivitas pembakaran yang dilakukan tanpa memperhatikan kondisi sekitar dapat menjadi pemicu kebakaran lahan.

BPBD Kukar memastikan akan merespons dengan cepat setiap laporan masyarakat mengenai Karhutla Kukar. Penanganan dilakukan untuk mencegah api meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.

Di sisi lain, BPBD Kukar telah berkoordinasi dengan BPBD Kota Samarinda dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terkait upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan. Koordinasi tersebut dilakukan karena ketersediaan armada pemadam Karhutla di Kukar masih terbatas.

Jika terjadi kebakaran dengan skala yang membutuhkan dukungan tambahan, penanganan dapat melibatkan bantuan dari daerah lain.

Aspiannur kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Menurutnya, faktor manusia masih menjadi penyebab dominan dalam kejadian kebakaran hutan dan lahan.

“Jangan lakukan aktivitas pembakaran lahan dan sampah di sembarang tempat. Karena karhutla yang terjadi sebanyak 80 persen disebabkan oleh kelalaian manusia,” tegasnya.

Dengan kondisi kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa pekan ke depan, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk menekan potensi Karhutla Kukar di berbagai wilayah.