Dua Kali Dapat Bantuan Revitalisasi, SMPN 2 Samarinda Benahi Ruangan Bekas Kebakaran

Dua Kali Dapat Bantuan Revitalisasi, SMPN 2 Samarinda Benahi Ruangan Bekas Kebakaran
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, meninjau ruang kelas dan melihat penggunaan papan interaktif digital (PID) dalam kegiatan gelar griya sekolah penerima bantuan revitalisasi 2026 di SMPN 2 Samarinda, Jumat (16/10/2026). (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)

DEADLINENEWS.CO, SAMARINDA – SMP Negeri 2 Samarinda mendapat bantuan program revitalisasi satuan pendidikan dari pemerintah pusat pada tahun 2026 dengan anggaran Rp2,5 miliar. Dana digunakan untuk merehabilitasi 19 ruang belajar dan satu ruang toilet. Bantuan ini terpisah dari proses pembangunan ulang delapan ruang kelas yang rusak akibat kebakaran pada 1 April 2026 lewat anggaran Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.

Dilansir dari Headlinekaltim.co, Kondisi fasilitas sekolah yang telah diperbaiki diperlihatkan dalam kegiatan gelar griya atau open house sekolah penerima bantuan revitalisasi 2026 di SMPN 2 Samarinda, Jumat, 16 Oktober 2026 Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat langsung hasil perbaikan fasilitas pendidikan sekaligus capaian program pemerintah.

Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, mengapresiasi revitalisasi yang dinilainya membantu meningkatkan kelayakan fasilitas belajar siswa. Dia bilang, pembangunan pendidikan membutuhkan sinergi pemerintah pusat dan daerah agar sekolah memiliki sarana yang memadai untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.

Dikatakannya Pemkot Samarinda akan terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) untuk menyampaikan kebutuhan sekolah lain yang memerlukan revitalisasi. Ia berharap usulan dari daerah dapat ditindaklanjuti pemerintah pusat sehingga semakin banyak siswa memperoleh fasilitas pendidikan yang layak. “Harapannya, pemerintah pusat, provinsi, dan daerah bisa terus bersinergi membangun pendidikan. Kalau ada sekolah lain yang membutuhkan revitalisasi, kami akan berkoordinasi dan menyampaikan usulannya agar bisa ditindaklanjuti,” ujar Saefuddin.

Kepala BPMP Provinsi Kalimantan Timur, Jarwoko, menjelaskan SMPN 2 Samarinda memiliki kondisi khusus karena menerima bantuan revitalisasi dua tahun berturut-turut. Status sekolah ini sebagai salah satu yang terdampak bencana kebakaran turut menjadi pertimbangan prioritas dalam program revitalisasi tahun ini.

Program pemerintah pusat tersebut, lanjut Jarwoko, ditujukan bagi sekolah negeri maupun swasta yang membutuhkan perbaikan fasilitas. Sasaran utamanya antara lain sekolah dengan ruang kelas rusak, belum memiliki toilet, atau membutuhkan ruang kelas baru karena daya tampung yang tidak lagi memadai. “Yang paling penting dari revitalisasi adalah menyediakan layanan pendidikan yang membuat anak-anak nyaman di sekolah. Dengan lingkungan yang nyaman, proses belajar diharapkan bisa berlangsung lebih bermakna,” kata Jarwoko.

Penentuan penerima bantuan dilakukan melalui pengajuan dan verifikasi untuk memastikan dukungan diberikan kepada sekolah yang benar-benar membutuhkan. Selain sekolah terdampak bencana, pemerintah juga memprioritaskan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dukungan pemerintah terhadap fasilitas pendidikan juga mencakup penyediaan papan interaktif digital (PID). Jarwoko menyebut SMPN 2 Samarinda telah menerima satu unit pada tahun sebelumnya dan mendapat alokasi tambahan lima unit pada 2026. Penyediaannya dilakukan secara bertahap sesuai program dan kebutuhan satuan pendidikan.

Kepala SMPN 2 Samarinda, Misradianto, menjelaskan dua sumber bantuan yang diterima sekolahnya. Pada 2025, sekolah ini lebih dulu memperoleh bantuan revitalisasi senilai Rp830 juta, dengan pekerjaan berlangsung September hingga Desember 2025 sebelum fasilitas tersebut mulai digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sejak Januari 2026. Namun, kebakaran pada 1 April 2026 kembali merusak sejumlah ruang sekolah.

Pascakebakaran, Pemkot Samarinda membantu pembangunan kembali delapan ruang kelas yang terdampak menggunakan APBD dengan perkiraan anggaran sekitar Rp1,8 miliar. Misradianto mengaku belum mengetahui nilai akhirnya secara pasti. Terpisah dari itu, bantuan revitalisasi pemerintah pusat senilai Rp2,5 miliar pada 2026 digunakan untuk pekerjaan pada 19 ruang belajar dan satu ruang toilet berbilik empat yang berbeda. “Untuk bantuan revitalisasi tahun ini, anggarannya Rp2,5 miliar. Sementara delapan ruang yang terdampak kebakaran dibangun kembali dengan bantuan Pemkot Samarinda,” jelas Misradianto.

Proses revitalisasi membuat kegiatan belajar mengajar sempat berlangsung secara daring sejak awal tahun ajaran baru pada Juli hingga akhir September 2026. Pembelajaran tatap muka kembali dimulai pada 5 Oktober setelah sebagian ruang selesai dikerjakan, meski delapan ruang yang dibangun pascakebakaran masih dalam proses pengerjaan hingga saat ini.

Misradianto berharap seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target akhir Oktober 2026 sehingga siswa bisa kembali belajar secara langsung tanpa harus bergantian mengikuti pembelajaran daring. “Sejak 5 Oktober, pembelajaran tatap muka sudah kembali berjalan. Kami berharap delapan ruang yang tersisa bisa selesai pada akhir Oktober sehingga seluruh siswa dapat kembali belajar secara langsung,” harap Misradianto mengakhiri. (Retno)