Asap Karhutla Selimuti Samarinda, Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat

Asap Karhutla Selimuti Samarinda, Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat
Pantauan kondisi kualitas udara di Kota Samarinda tertutup kabut asap pada sore hari. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)

DEADLINENEWS.CO, SAMARINDA – Kualitas udara Samarinda memburuk akibat kepulan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut turut mengurangi jarak pandang dan membuat udara yang dihirup masyarakat berada pada tingkat yang perlu diwaspadai.

Dilansir dari Headlinekaltim.co, Koordinator Bidang Logistik dan Sarana Prasarana sekaligus Satgas PDB BPBD Kota Samarinda, Ifran, menjelaskan kondisi berkabut yang terlihat di Samarinda tidak hanya berkaitan dengan cuaca. Asap dari kebakaran lahan di sekitar kota juga disebut ikut memengaruhi kondisi udara.

“Ini mendung. Pertama, memang operasi udara kita, OMC (Operasi Modifikasi Cuaca) sedang berjalan, penyemaian juga sedang dilakukan, tapi awannya agak tersebar. Kondisi ini juga dipengaruhi kebakaran lahan di sekitar Kota Samarinda,” terang Ifran saat dikonfirmasi Rabu, 16 September 2026.

Hasil pemantauan pada pagi hari menunjukkan kualitas udara Samarinda berada pada angka 64,9 dan masuk kategori tidak sehat. Masyarakat, terutama mereka yang memiliki aktivitas di luar ruangan, diminta lebih memperhatikan kondisi tersebut.

“Kalau aktivitas di luar rumah sebaiknya memakai masker,” imbaunya.

Kondisi semakin memburuk berdasarkan pemantauan pada sore hari sekitar pukul 17.00 WITA di Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 tercatat mencapai 168,4 µg/m³ dan berada dalam kategori sangat tidak sehat.

Meski tren konsentrasi PM2.5 dalam pemantauan tersebut menunjukkan penurunan, tingkat partikulat masih berada pada kategori yang perlu diwaspadai.

Api Karhutla Kembali Muncul

Di tengah memburuknya kualitas udara Samarinda, BPBD Kota Samarinda masih melakukan penanganan karhutla. Ifran mengatakan personel kembali disiapkan untuk menuju kawasan Irigasi setelah laporan mengenai munculnya titik api kembali diterima.

“Teman-teman sudah siap lagi meluncur ke daerah irigasi karena lahan di sana menyala kembali,” ujar dia.

Proses pemadaman di kawasan tersebut menghadapi sejumlah kendala. Area kebakaran cukup luas dengan titik api yang tersebar, sementara sebagian berada di kawasan gambut.

Ifran menjelaskan, kebakaran pada lahan gambut memiliki karakter berbeda dibandingkan kebakaran lahan biasa. Jika api pada lahan biasa lebih mudah terlihat, kebakaran gambut justru dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar karena api bisa membakar lapisan tanah di bawah permukaan.

“Kalau gambut bedanya dengan kebakaran lahan biasa. Kalau lahan biasa itu langsung api, kalau gambut lebih banyak asapnya. Nah, itu bisa mengganggu kesehatan,” tambahnya.

Kondisi Disebut Salah Satu yang Terparah

Ifran menyebut kondisi karhutla di Samarinda pada Rabu, 16 September 2026, sebagai salah satu situasi terparah selama penanganan berlangsung. Tebalnya asap terlihat dari kondisi langit yang tertutup hingga matahari hampir tidak tampak.

“Hari ini sebenarnya yang terparah. Kita lihat di Samarinda, matahari saja sudah tidak kelihatan sama sekali,” ungkapnya.

Situasi tersebut berlangsung saat masa tanggap darurat karhutla telah memasuki hari ke-24. Penanganan tetap dilakukan, meski kondisi kebakaran lahan belum menunjukkan penurunan yang berarti.

Ifran berharap kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Hujan rintik yang sempat turun pada pagi hari menjadi harapan untuk membantu mengurangi dampak kebakaran lahan.

“Memang ada hujan tadi pagi, rintik-rintik, tapi kita syukuri saja,” demikian Irfan. (Retno)