DEADLINENEWS.CO, SAMARINDA – Penanganan karhutla Kaltim menjadi pembahasan dalam Rapat Kerja Mitra Strategis Komite II DPD RI di Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Senin, 14 September 2026. Pertemuan tersebut turut menghadirkan anggota DPD RI Alfiansyah Komeng dan Yulianus Henock Sumual.
Dilansir dari Headlinekaltim.co , rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu berlangsung di Ruang Ruhui Rahayu, Kantor Gubernur Kaltim. Hadir dalam pertemuan tersebut Sekretaris Daerah Kaltim Sri Wahyuni, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono, serta Ketua Komite II DPD RI Badikenita BR Sitepu.
Kehadiran Komeng menjadi perhatian tersendiri. Mantan pelawak yang dikenal melalui grup Diamor dan sejumlah program komedi televisi tersebut tetap membawa gaya khasnya ketika memberikan penjelasan mengenai peran Komite II DPD RI dalam mengawasi kebijakan penanganan karhutla.
Komeng menjelaskan, posisi Komite II DPD RI dalam persoalan tersebut lebih pada fungsi pengawasan terhadap kebijakan yang telah disusun Presiden bersama jajaran menteri dan panglima. Kebijakan itu antara lain mencakup pembangunan kanal air dan sumur bor.
“Sebenarnya ini cuma Presiden dan para menterinya, sudah bagaimana, dan para panglima dan yang lainnya sudah mengadakan rapat. Bahwa untuk menghentikan karhutla ini sudah ada ketentuan-ketentuannya, ada bagian-bagiannya, ada Polri, bagian kanal, terus ada yang bikin sumur bor,” ujar mantan pelawak yang kini menjabat anggota Komite II DPD RI tersebut.
Ia mengatakan kunjungannya bersama Wakil Menteri Lingkungan Hidup ke Kaltim dilakukan untuk melihat secara langsung pelaksanaan kebijakan tersebut. Menurutnya, ketentuan yang telah dibuat harus benar-benar diterapkan di lapangan.
“Kita kan cuma ngawasin. Awas ya, awas ya, awas,” selorohnya, sontak mengundang tawa.
Dalam suasana yang lebih santai, Komeng juga menyampaikan kalimat yang menurutnya dapat menjadi penyemangat bagi tim yang bertugas menangani kebakaran. Kalimat itu ia dapatkan dari perbincangan dengan salah satu perwira di lokasi.
“Tadi Pak Karo sudah bilang, pantang pulang sebelum padam,” katanya.
Sementara itu, anggota DPD RI asal Kaltim Yulianus Henock Sumual menyampaikan pandangan berbeda. Sebagai perwakilan daerah, ia berharap penanganan karhutla di Pulau Kalimantan, khususnya Kaltim, dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
“Sebagai tuan rumah, saya dari DPD RI berharap penanganan kebakaran yang ada di Pulau Kalimantan, umumnya khususnya Kalimantan Timur, itu ditangani secara serius. Koordinasi yang baik antara kepala daerah dan kementerian sudah membantu,” ujar Henock.
Henock menilai penanganan karhutla seharusnya tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika kebakaran telah terjadi. Upaya pencegahan perlu diperkuat agar bencana yang berulang setiap tahun dapat ditekan.
“Kami juga Komite II DPD RI hari ini melaksanakan acara ini supaya penanganan kebakaran ini benar-benar, jangan setengah-setengah. Lebih baik dicegah sebelum terjadi. Jangan terjadi bertahun-tahun, selalu berulang-ulang,” tegas dia.
Ia juga mengkritik pola penanganan karhutla yang dinilainya berulang setiap tahun. Menurut Henock, kondisi tersebut jangan sampai membuat penanganan karhutla seolah menjadi kegiatan yang terus muncul tanpa penyelesaian tuntas, terlebih anggaran yang digunakan berasal dari masyarakat.
“Ini harapan kami bahwa kebakaran-kebakaran yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia harus dicegah. Jangan menjadi proyek. Ini mirip proyek, setiap tahun ada terus. Ini menghabiskan uang rakyat, bukan milik proyek,” tandas Henock. (Retno)













