Berau  

Bupati Minta Kewaspadaan terhadap Karhutla Tetap Dijaga

Penanganan Karhutla di Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau. (Foto: Ist)

DEADLINENEWS.CO, TANJUNG REDEB – Kewaspadaan terhadap karhutla Berau tetap diminta untuk dijaga seiring musim kemarau yang masih berlangsung. Pemerintah Kabupaten Berau terus melakukan penanganan kebakaran sekaligus berupaya menekan dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Dilansir dari Headlinekaltim.co, Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengatakan kondisi karhutla dalam beberapa waktu terakhir menjadi tantangan bagi masyarakat. Kabut asap yang muncul tidak hanya mengganggu jarak pandang dan kegiatan sehari-hari, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan, terutama anak-anak.

“Pemerintah daerah tidak pernah diam. Kami memahami bahwa di balik kabut asap ada keresahan masyarakat. Ada orang tua yang khawatir terhadap kesehatan anak-anaknya, ada aktivitas masyarakat yang terganggu, dan ada pula para pelaku usaha yang harus menyesuaikan kegiatan mereka,” ujarnya.

Sri menjelaskan, sejumlah langkah perlindungan dilakukan ketika kualitas udara mengalami penurunan. Salah satunya dengan menerapkan kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) untuk mengurangi paparan udara tidak sehat terhadap anak-anak.

Selain itu, masyarakat diminta mengenakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, membatasi kegiatan di luar rumah, serta tetap memperhatikan kondisi kesehatan.

Data BMKG Kalimantan Timur periode 17 September 2026 menunjukkan jumlah hotspot di Berau mencapai 91 titik. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan 29 Agustus 2026 yang tercatat sebanyak 779 titik panas dan menjadi angka tertinggi di Kalimantan Timur pada saat itu. Di tengah kondisi tersebut, hujan mulai turun di sejumlah wilayah Berau. Namun, curah hujan dan cakupannya masih terbatas.

“Hujan sekecil apa pun adalah rahmat dan keberkahan. Hujan membantu menurunkan panas, memberikan kelembapan bagi tanah, dan sedikit demi sedikit membantu kita keluar dari kondisi yang sulit ini,” katanya.

Meski terdapat penurunan jumlah hotspot dan hujan mulai turun, pemerintah daerah belum mengendurkan kewaspadaan. Sri menyebut perubahan kelembapan tanah selama musim kemarau masih berpotensi memunculkan kembali titik api. Untuk mengantisipasi hal tersebut, tim gabungan tetap disiagakan. Penanganan melibatkan BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, Manggala Agni, pihak swasta, serta sejumlah unsur terkait.

Upaya pemadaman dan pemantauan titik api juga terus dilakukan dengan dukungan water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Koordinasi dengan pemerintah pusat turut dilakukan untuk memperkuat penanganan karhutla. Sri mengungkapkan, pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Menteri Kehutanan untuk menyampaikan kondisi yang terjadi di Berau sekaligus mendorong dukungan dalam penanganan kebakaran.

“Koordinasi terus kita lakukan dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, aparat keamanan, dunia usaha, dan seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap persoalan ini,” jelasnya.

Bupati menegaskan, penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Peran masyarakat diperlukan, terutama untuk mencegah munculnya sumber api baru. Ia meminta warga tidak melakukan pembakaran yang berpotensi menyebabkan kebakaran. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api serta ikut menjaga kondisi lingkungan dan situasi tetap kondusif.

“Tidak pernah bosan kami mengingatkan, mari kita bersama-sama menjaga lingkungan, tidak melakukan pembakaran yang dapat memicu kebakaran, segera melaporkan apabila menemukan titik api, dan menjaga suasana tetap kondusif,” pungkasnya. (Riska)