Kolam Bekas Tambang Jadi Tempat Mandi Warga Saat Kemarau, Bocah 7 Tahun Tenggelam

Warga melakukan pencarian korban tenggelam di kolam yang diduga bekas tambang di kawasan Bayur, Selasa (15/9/2026). (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)

DEADLINENEWS.CO, SAMARINDA – Seorang bocah berusia tujuh tahun meninggal dunia setelah tenggelam di sebuah kolam yang disebut warga merupakan bekas aktivitas tambang di Jalan Teluk Kedondong, Kelurahan Sempaja Utara, Samarinda, Selasa, 15 September 2026. Kolam tersebut selama musim kemarau kerap digunakan warga sebagai tempat mandi.

Dilansir dari Headlinekaltim.co , kejadian berlangsung sekitar pukul 16.00 WITA. Saat itu, sejumlah warga sedang berada di kolam untuk mandi. Korban yang sebelumnya duduk bersama beberapa anak di tepian kemudian turun ke air setelah warga dewasa selesai mandi. Salah seorang saksi, Risnawati, menuturkan korban awalnya hanya berada di sekitar kolam sambil melihat warga yang tengah mandi. Setelah warga dewasa meninggalkan air, korban kemudian ikut turun dan berenang.

“Anak-anak itu dudukan di atas melihat kami mandi di sini. Habis kami naik, kami berdirian lagi di situ. Berenanglah dia, langsung nyebur di situ,” kata Risnawati saat dimintai keterangan.

Korban sempat berenang menuju sebuah kayu yang berada di dalam kolam. Setelah itu, Risnawati tidak lagi melihat korban muncul ke permukaan. Menurut Risnawati, ada satu percakapan korban dengan temannya yang masih diingatnya sebelum kejadian. Korban sempat mengucapkan salam perpisahan sekaligus meminta maaf kepada temannya.

“Dia sempat ngomong sama temannya, ‘dadah, aku minta maaf ya’. Temannya bilang, ‘ah aku nggak mau maafkan’. Sedengar saya sampai situ aja,” tuturnya.

Risnawati menjelaskan, warga memang sudah terbiasa memanfaatkan kolam tersebut untuk mandi ketika musim kemarau. Kondisi itu terjadi karena sebagian warga mengalami kesulitan memperoleh air di rumah.

“Sudah sering, pas mulai kemarau. Musim kemarau aja sih karena nggak ada air, kan di rumah, jadi mandian kita ke sini,” imbuhnya.

Anak-anak juga kerap ikut berada di lokasi ketika warga menggunakan kolam tersebut. Biasanya, orang dewasa mengawasi anak-anak agar tidak berenang terlalu jauh ke bagian tengah. Namun, pada saat kejadian, korban tidak mendapat pendampingan khusus dari orang dewasa. Setelah menyadari korban hilang, warga langsung melakukan pencarian secara manual. Helmi, salah seorang warga, turut masuk ke dalam kolam untuk mencari korban. Ia menyebut pencarian dimulai sekitar pukul 16.30 WITA dan berlanjut hingga malam hari.

Korban akhirnya ditemukan setelah Helmi meraba bagian kaki saat menyelam ke dasar kolam. Tubuh korban ditemukan dalam keadaan telungkup dan berada di dasar kolam.

“Saya nyelam, kan di dasar, nah teraba kakinya, tapi posisi telungkup di bawah dia,” kata Helmi.

Helmi memperkirakan lokasi korban ditemukan memiliki kedalaman sekitar 2,5 meter. Ia mengatakan bagian dasar kolam berupa pasir dan tidak terdapat lumpur.

“Tidak ada lumpur, pasir aja di bawah. Ketinggiannya sekitar dua meter setengah di bawah, di dasarnya tadi,” sebut dia.

Setelah pencarian berlangsung sekitar tiga jam, korban ditemukan pada pukul 19.17 WITA. Saat dievakuasi, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia dan selanjutnya dibawa ke rumah duka. Pamapta III Polresta Samarinda, Aiptu Joko Wahyudi, mengatakan pihak kepolisian menerima laporan warga sekitar pukul 16.30 WITA. Petugas yang tiba di lokasi mendapati masyarakat masih melakukan pencarian terhadap korban.

“Sudah banyak warga yang berkerumun dan warga juga membantu mencari secara manual dan sekitar jam 19.17 tadi korban berhasil ditemukan,” tutur Wahyu.

Polisi kemudian mengamankan lokasi dan memberikan edukasi kepada keluarga korban agar tidak mengambil foto maupun video saat korban ditemukan. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bentuk penghormatan terhadap keluarga yang sedang berduka. Joko juga mengingatkan masyarakat, khususnya orang tua, agar mengawasi anak-anak dan tidak membiarkan mereka berenang di kolam atau danau yang kedalaman serta kondisi dasarnya tidak diketahui.

“Kita mengimbau kepada masyarakat, khususnya orang tuanya agar menjaga anak-anaknya untuk tidak berenang di danau sekitaran sini agar tidak terjadi korban selanjutnya,” imbau Aiptu Joko Wahyudi.