DEADLINENEWS.CO, SAMARINDA – Warga di kawasan Sungai Kapih, Samarinda, masih mengandalkan bantuan air bersih setelah operasional Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sungai Kapih terganggu akibat tingginya kadar klorida pada air baku.
Dilansir dari Headlinekaltim.co bantuan air bersih disediakan Perumda Tirta Kencana Samarinda melalui sejumlah titik, salah satunya Terminal IPA Sungai Kapih di Jalan Sungai Kapih, Gang Inpres, Kelurahan Sungai Kapih. Sejak layanan dibuka, warga datang membawa jeriken dan galon untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Antrean warga terlihat cukup ramai terutama pada pagi hari sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WITA dan sore sekitar pukul 17.00 WITA. Pada Jumat, 11 September 2026 sekitar pukul 09.00 WITA, warga masih terlihat mengantre untuk mendapatkan air bersih.
Salah satu warga RT 01, Hayatun (48), mengatakan kondisi tersebut membuat warga di lingkungannya harus mencari sumber air alternatif. Ia mengaku sudah menggunakan air sungai selama sekitar tiga bulan setelah aliran air ledeng di rumahnya tidak lagi berjalan normal.
Namun, Hayatun khawatir menggunakan air sungai ketika kondisi sedang pasang. Menurutnya, air berubah warna menjadi kehijauan dan dikhawatirkan menimbulkan gangguan jika digunakan secara langsung.
“Itu kan air pasang itu warnanya hijau, saya dan anak di rumah sakit perut, mules jadinya kalau pakai air sungai,” ujar Hayatun.
Pada Jumat pagi, Hayatun mulai mengantre sekitar pukul 07.00 WITA. Ia harus menunggu karena aliran air dari keran saat itu masih kecil. Air yang diperoleh dari Terminal IPA Sungai Kapih kemudian digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, seperti mencuci piring, mencuci sayur dan beras. Sementara untuk kebutuhan minum, ia memilih membeli air galon.
“Yang pentingnya untuk cucian, cuci piring, cuci sayur, dan beras. Kalau minum, kita beli, terus kita rebus lagi,” katanya.
Informasi mengenai layanan air bersih tersebut diperoleh Hayatun dari pengurus RT melalui grup WhatsApp. Air yang diambilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan empat orang anggota keluarganya. Operator IPA Sungai Kapih, Achmad Robbyal, mengatakan layanan pengambilan air bersih bagi warga mulai berjalan pada Rabu, 10 September 2026 pagi dan dibuka selama 24 jam.
“Ini mulai hari Rabu pagi, sudah berjalan untuk warga,” kata Robbyan atau Obi akrabnya.
Menurut Obi, reservoir yang digunakan untuk melayani warga memiliki kapasitas sekitar 4.830 meter kubik. Untuk memudahkan pengambilan, pihaknya menyiapkan 10 keran. Warga dibatasi maksimal mengambil dua galon. Selain itu, pengambilan menggunakan selang maupun mobil tidak diperbolehkan. Gangguan operasional IPA Sungai Kapih, lanjut Obi, berkaitan dengan masuknya air asin yang telah dirasakan sekitar dua pekan terakhir. Pada awal gangguan, aliran air sempat terhenti selama beberapa jam sebelum kembali mengalir.
Kondisi tersebut kemudian memburuk pada Selasa, 8 September 2026. Aliran air sempat mati sejak siang dan hanya kembali mengalir sekitar satu hingga dua jam sebelum kembali berhenti. Sejak Rabu, produksi IPA Sungai Kapih tidak dapat berjalan normal.
Saat produksi dihentikan, reservoir dalam kondisi masih penuh. Cadangan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan warga yang mengambil air secara langsung di Terminal IPA.
Obi menjelaskan, cadangan air tidak langsung dialirkan ke seluruh jaringan pelanggan karena dapat membuat reservoir cepat kosong. Dengan debit sekitar 240 hingga 250 liter per detik, persediaan air diperkirakan hanya bertahan dua hingga tiga jam.
“Kalau didistribusikan, dengan debit di sini bisa 240 sampai 250 liter per detik, hitungannya dua sampai tiga jam habis reservoir. Kalau ini habis, enggak bisa ambil air lagi. Jadi memang arahannya seperti itu, stok di sini kita jaga untuk distribusi ke warga langsung,” jelas dia.
IPA Sungai Kapih melayani sejumlah wilayah, mulai dari kawasan Damai, Gerilya, hingga Makroman dan sekitarnya. Karena cakupan pelayanan tersebut, penggunaan cadangan reservoir harus diperhitungkan agar persediaan tidak habis selama kadar klorida masih tinggi.
Operator melakukan pemeriksaan kadar klorida air baku setiap satu jam untuk menentukan apakah produksi dapat kembali dijalankan. Jika kadar klorida berada di bawah 250 part per million (ppm), produksi dan distribusi dapat dioperasikan kembali.
Pada Jumat sekitar pukul 03.00 WITA, kadar klorida sempat turun di bawah 250 ppm sehingga produksi dan distribusi kembali berjalan. Namun, sekitar pukul 07.00 WITA, kadarnya kembali meningkat menjadi 325 ppm sehingga operasional kembali dihentikan.
Saat wawancara berlangsung, kadar klorida bahkan kembali meningkat. Obi menyebut angka yang sebelumnya berada di 655 ppm naik menjadi 1.085 ppm seiring kondisi Sungai Mahakam yang sedang pasang.
“Sekarang lagi posisi pasang. Nanti kalau surut, kemungkinan bisa turun, tapi biarpun turun, kita tetap harus cek dulu, enggak bisa langsung produksi. Harus tetap dalam tahap-tahap pengecekan,” demikian Achmad Robbyal. (Retno)













