DEADLINENEWS.CO, TENGGARONG – Total luasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kukar telah mencapai ribuan hektare lahan. Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi (rakor) penanganan karhutla, Selasa, 1 September 2026, di Kantor Diskominfo Kukar, yang diikuti oleh 305 perusahaan yang beroperasi di Kukar secara daring melalui Zoom Meeting. “Luas kebakaran sudah mencapai 1.304,58 hektare,” ucap Sekretaris Daerah Kukar Sunggono.
Dilansir dari Headlinekaltim.co, Sunggono menambahkan, per hari ini terdapat 144 titik api, dengan titik api tertinggi berada di Desa Sebintulung dan Bukit Jering, Kecamatan Muara Kaman. Kemarau yang berkepanjangan turut berdampak pada kasus ISPA di Kukar, meningkat hingga 200 persen. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar per 27 Agustus 2026 menunjukkan angka tersebut telah menembus 3.639 kasus. “Yang terpapar ISPA berasal dari kelompok usia 5–18 tahun,” jelasnya.
Ketersediaan air bersih di puskesmas induk dan puskesmas pembantu akan dipantau oleh Pemkab Kukar agar tidak sampai mengalami krisis air bersih. Stok masker yang dimiliki Pemkab berkisar 40.000 lembar dan akan segera dibagikan kepada masyarakat.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri memberikan arahan agar penanganan saat ini dilakukan secara kolaboratif dengan perusahaan-perusahaan yang ada di Kukar. Sasaran utamanya adalah lahan gambut yang mudah terbakar sehingga kewaspadaan harus terus dijaga. Perusahaan pemilik Hak Guna Usaha (HGU) diminta melakukan patroli aktif. Aulia juga mewanti-wanti perusahaan yang sengaja membakar lahan.
“Perusahaan yang membuka lahan dengan cara membakar akan saya berikan sanksi,” tegas Aulia.
Perusahaan juga diminta untuk tidak mempersulit proses peminjaman mobil tangki air serta alat bantu pemadam kebakaran (Damkar). Pasalnya, Bupati Aulia menerima laporan bahwa ada perusahaan yang tidak mau melakukan pemadaman api, padahal memiliki IUP dan HGU di wilayah tersebut. “Kepada Forkopimcam agar segera melakukan rapat koordinasi dan melaporkan kepada kami, perusahaan mana saja yang tidak mau terlibat dalam pemadaman karhutla,” tegasnya lagi.
Bupati yang berlatar belakang dokter ini telah menerima laporan dari Dinkes bahwa kualitas udara sudah tidak baik sehingga ke depan tidak menutup kemungkinan akan diambil kebijakan bagi anak-anak sekolah untuk belajar secara daring demi keamanan. “Ini baru sebatas wacana. Anak sekolah akan belajar secara daring sambil kita lihat perkembangan kondisinya,” pungkasnya. (Andri)













